Menulis sebagai Cara Merawat Ingatan

Pada Kelas Menulis Kreatif Angkatan I, yang diadakan tahun 2022, berhasil menerbitkan satu buku bunga rampai berjudul “Bermain Cerita”. Dalam buku “Bermain Cerita” tersebut, lebih dari 50 tulisan anak-anak terkumpuk, yang bercerita tentang kegiatan mereka sehari-hari, baik di sekolah, bersama temannya, maupun interaksinya dengan orang tua.

Sedangkan pada Kelas Menulis Kreatif Angkatan II, yang hasil karyanya terangkum dalam buku “Literasi Lingkungan dan Cerita-Cerita Lainnya”, ini diadakan sejak Juni hingga Desember 2023. Dalam buku ini terdapat 52 tulisan anak-anak yang berkisah seputar dunia mereka yang dinamis, riang, dan penuh rasa ingin tahu.

Selama kegiatan, praktik menulisnya tidak terbatas hanya di perpustakaan dan di ruang kelas. Saat menulis, anak-anak dipersilakan mencari posisi yang nyaman bagi dirinya. Sebagai fasilitator, saya hanya memotivasi anak agar mereka berani menulis.

“Ide menulis itu ada di diri kita dan di sekitar kita.” Itu kata-kata motivasi yang selalu saya tekankan dan saya ulangi.

Saya sampaikan bahwa tak perlu takut untuk mulai menulis, sama kalau kita belajar naik sepeda. Kadang menabrak tembok atau bahkan masuk got, tetapi kita tetap saja mau naik sepeda. Anak-anak tertawa mendengar perumpamaan ini.

BACA JUGA:  MAKASSAR URBAN FARMING

Kita tidak kapok naik sepeda mesti jatuh, luka, atau mungkin berdarah. Semangat itu perlu dimiliki ketika kita menulis. Menulis saja, jangan ragu!

Saya lantas mencontohkan, bahwa ide tulisan bisa dari nama kita masing-masing, dari suasana kelas, dari tanaman dan tumbuhan di halaman sekolah, dari pohon dan bunga-bunga yang kita rawat dengan baik, atau ketika liburan di rumah nenek. Saya sampaikan pentingnya menulis dengan menunjuk poster-poster para pahlawan yang dipajang di dalam kelas.

Saya katakan, kita bisa mengetahui sejarah dan cerita para pahlawan karena kisah mereka ditulis. Padahal, para pahlawan itu sudah wafat puluhan atau ratusan tahun lalu.
Buku-buku sekolah yang kita pelajari juga seperti itu. Kita tidak pernah bertemu dan kenal penulisnya, tetapi kita tahu namanya. Itu karena para penulis tersebut menulis buku.

Jadi kalau mau dikenal dan terkenal, maka menulislah. Supaya tulisan kita berkualitas, lebih bagus, maka perlu rajin membaca. Begitu pesan saya selalu kepada anak-anak peserta Kelas Menulis Kreatif.

BACA JUGA:  APA KABAR GAZA?

Dalam buku berisi kisah dan ungkapan hati anak-anak ini, bukan saja bisa dirasakan dinamika kegiatan literasi di kalangan anak-anak. Akan tetapi juga suasana pembelajaran anak-anak di sekolah, dan momen saat mereka akan menerima rapor.

Ada banyak kecamuk perasaan anak-anak, yang intinya mereka sangat ingin membahagiakan orang tuanya melalui nilai rapor yang baik. Mereka mau membanggakan dan membahagiakan orang tuanya dengan angka-angka yang punya nilai tinggi sehingga dianggap berprestasi.

Tercermin pula dalam buku ini, bagaimana pendidikan karakter anak-anak: religiositasnya, rasa hormat terhadap orang tua, kesalehan sosialnya, kepeduliaan, semangat kebersamaan dengan temannya, kreativitas, kemandirian, dan kepercayaan dirinya.

Tentu saja diharapkan, kehadiran buku berjudul “Literasi Lingkungan, dan Cerita-Cerita Lainnya” ini, dapat semakin memotivasi anak-anak di SD Inpres Banta-bantaeng 1. Pendokumentasian dalam wujud buku, diharapkan bisa menularkan semangat menulis, tidak terbatas hanya pada anak-anak yang karyanya terdapat dalam buku ini. Namun, juga bagi anak-anak di sekolah lainnya, sebagai upaya implementasi Gerakan Literasi Sekolah, dan sekaligus mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA).

BACA JUGA:  KE MEKKAH NAIK UNTA KURUS

***

Terima kasih kepada Ibu Hj. Baena, S.Pd., M.Pd., dan dewan guru di SD Inpres Banta-bantaeng 1. Terima kasih buat anak-anak, peserta Kelas Menulis Kreatif. Teruslah mengasuh bakat menulismu, dan teruslah menulis untuk mengasah wawasanmu agar lebih pandai, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta.