Bos, Jangan Jauh-Jauh…

By : Guru Mengaji Lorong

“Bagaimana, kita jadi ke Kafe Baca?”

Saya baru saja memasang niat untuk mengambil jarak agak jauh. Sudah membayangkan duduk sambil ngeteh, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Tiba-tiba si kuda besi seperti menyela.

Bos…”

“Apa?”

“Coba lihat saya dulu.”

“Kenapa memang?”

“Lihat kaca meteran.”

Saya melirik.

Satu garis.

Saya diam.

Dia diam.

Kami saling memahami dalam bahasa yang aneh. Saya membaca garis, dia mungkin membaca pikiran saya.

“Jadi?”

“Ya… tinggal satu garis, Bos.”

“Terus?”

“Kalau mau jalan jauh, silakan. Saya sih siap…”

Saya mulai senang.

“Tapi?”

“Tapi jangan salahkan saya kalau nanti kita berdua pulang jalan kaki.”

Saya tertawa.

“Ah, kamu ini. Baru tinggal satu garis sudah banyak bicara.”

“Bukan banyak bicara, Bos. Saya sedang menyelamatkan harga diri kita.”

“Kenapa harga diri?”

“Bayangkan kalau mogok di tengah jalan. Bos yang malu, saya yang ditendang-tendang.”

“Memangnya kamu bisa ditendang?”

*”Bisa. Manusia kalau panik, kadang yang tidak salah pun ikut disalahkan.”*

BACA JUGA:  Motor Bodong

Saya tertawa lagi.

Tapi kemudian pandangan saya kembali ke balik kaca meteran.

Satu garis.

Padahal rencana saya ingin mengambil jarak jauh, ke Kafe Baca. Namun garis kecil itu seperti teguran sederhana yakni

Jangan ambil risiko.

Akhirnya kami sepakat mengambil jarak dekat. Tidak jauh dari rumah.

Bukan karena tidak ingin pergi.

Bukan pula karena perjalanan jauh itu tidak penting.

Hanya saja, kadang kita memang perlu tahu kapan harus berkata kepada diri sendiri yakni

“Cukup sampai di sini dulu.”

Saya pun melanjutkan perjalanan pelan-pelan.

Dalam perjalanan, saya kembali memikirkan satu garis tadi.

Lucu sebenarnya.

Si kuda besi punya meteran untuk mengukur bahan bakar. Manusia tidak punya meteran untuk mengukur sisa tenaga.

Si kuda besi tahu kapan harus berhenti karena bahan bakarnya hampir habis.

Manusia sering kali baru tahu dirinya kehabisan tenaga setelah tubuhnya benar-benar menyerah.

Dan saya tidak ingin nanti ketika pulang, *butir-butir keringat mengambil alih tugas satu garis di balik kaca meteran.*

BACA JUGA:  Gila Urusan

Saya ingin pulang dengan selamat.

Sebab ternyata pulang juga bagian dari perjalanan.

Lalu entah kenapa, di tengah perjalanan yang pendek itu, saya tiba-tiba merasa kecil.

Selama ini kita sering merasa kuat.

Merasa bisa ke mana saja.

Merasa mampu menempuh sejauh apa pun.

Padahal untuk bergerak saja, kita bergantung pada sesuatu yang sangat sederhana yakni *bahan bakar.*

Dan hidup pun begitu.

Ada hari ketika semangat penuh.

Ada hari ketika tinggal satu garis.

Ada hari ketika kita bahkan tidak tahu masih berapa banyak tenaga yang tersisa.