Bukan ke Kafe Baca.
Bukan ke tempat yang sudah saya rencanakan.
Hanya sampai di warkop tidak jauh dari rumah, lalu menemukan masjid yang ternyata hanya selangkah di sebelahnya.
Kadang Tuhan memang tidak membawa kita sejauh yang kita inginkan.
Tuhan hanya membawa kita sedekat yang kita butuhkan.
Dan mungkin satu garis di balik kaca meteran itu bukan sebatas peringatan tentang BBM.
Barangkali ia sedang mengajarkan sesuatu yakni
Tidak semua perjalanan harus jauh untuk menemukan makna.
Kadang kita hanya perlu berhenti.
Duduk sebentar.
Minum teh susu.
Mendengar suara orang-orang.
Lalu ketika azan memanggil, kita cukup bergeser beberapa langkah untuk bersujud.
Dan di situlah saya kembali sadar
ketika bahan bakar kendaraan hampir habis, kita tahu harus mencari tempat mengisi.
Tetapi ketika hati mulai kosong, kepada siapa kita mengadu?
Ketika suara kita tidak lagi terdengar, kepada siapa kita berharap?
Ketika tanda tangan manusia tak lagi punya arti, kepada siapa kita meminta kepastian?
Kepada Tuhan.
Sebab mungkin di dunia ini kita bisa kehilangan banyak hal yakni
bensin bisa habis, suara bisa diredam, jabatan bisa berganti, tanda tangan bisa dilupakan.
Tetapi pintu Tuhan tidak pernah kehabisan tempat untuk orang yang datang membawa lelah.
Saya menatap si kuda besi yang terparkir di depan warkop.
“Terima kasih, kawan.”
Ia diam.
Tapi saya tahu, hari ini kami tidak sedang gagal menempuh perjalanan jauh.
Kami hanya sedang diajari bahwa terkadang jalan yang pendek justru membawa kita lebih dekat-bukan hanya ke rumah, tetapi juga kepada Tuhan.
PT, 11/9/2026






