“Bos…”
“Iya?”
*”Kalau bahan bakar saya tinggal satu garis, saya masih boleh mengingatkan sesuatu?”*
“Silakan.”
*”Kalau suara saya saja masih bisa terdengar, bagaimana dengan suara orang-orang yang mungkin tinggal satu harapan?”*
Saya terdiam.
Ia melanjutkan, seolah sedang bicara kepada dirinya sendiri.
*”Masih adakah yang mendengar, Bos?”*
Saya tidak segera menjawab.
Sebab pertanyaan itu terasa lebih besar daripada perjalanan kami.
Saya kemudian bertanya dalam hati yakni
Masih adakah yang punya suara?
Suara yang tidak perlu keras untuk didengar.
Suara yang tidak perlu marah untuk diperhatikan.
Suara kecil dari mereka yang hanya ingin kehidupannya sedikit lebih mudah, perjalanannya sedikit lebih aman, dan hari esoknya sedikit lebih pasti.
Lalu terlintas satu pertanyaan lagi yaitu
Masihkah tanda tanganmu berharga?
Bukan sebatas tanda tangan yang membuat selembar kertas menjadi sah.
Tetapi tanda tangan yang pernah menjadi janji.
Janji bahwa ada sesuatu yang akan diperjuangkan.
Janji bahwa ada sesuatu yang akan diperbaiki.
Janji bahwa mereka yang berada di bawah akan tetap dilihat oleh mereka yang berada di atas.
Saya menatap jalan di depan.
Si kuda besi terus berjalan.
Saya tersenyum kecil.
“Sudahlah, kawan. Kita jangan merasa sedang mengkritik siapa-siapa.”
Ia seperti menjawab,
“Memangnya kita sedang mengkritik?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Saya terdiam sebentar.
“Mungkin kita hanya sedang mengingatkan.”
Sebab kritik yang baik tidak selalu datang dengan suara tinggi.
Kadang ia datang dalam bentuk pertanyaan.
Bukan untuk menjatuhkan.
Tetapi agar yang memiliki kuasa kembali ingat bahwa setiap keputusan punya manusia yang akan menjalaninya.
Dan setiap tanda tangan punya konsekuensi yang mungkin jauh lebih panjang daripada tinta yang mengering di atas kertas.
Beberapa menit kemudian, saya menepuk stang si kuda besi.
“Sudah, kita singgah saja.”
“Di mana?”
“Di warkop yang dekat dari rumah.”
Ia seperti mengangguk.
“Yang penting jangan jauh-jauh,” kata saya.
Kami akhirnya berhenti di sebuah warkop yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sederhana saja. Ada meja, kursi, teh susu, obrolan orang-orang, dan aroma gorengan yang kadang lebih menggoda daripada niat untuk pulang cepat.
Saya duduk.
Si kuda besi parkir di depan.
“Lumayan,” kata saya.
“Kenapa?”
“Tidak jauh dari rumah, tidak bikin bensin habis.”
Juga warkop itu berdinding satu dengan sebuah masjid.
Saya tersenyum.
“Wah, kau beruntung, kawan.”
“Kenapa?”
“Kalau waktunya shalat Jum’at tiba, kita tidak perlu bergeser jauh-jauh lagi.”
Saya pun berhenti bercanda.
Mungkin memang ada alasan kenapa hari ini saya tidak jadi pergi jauh.






