oleh: Ardhy M. Basir
Makassar, 07 Juli 2026
Makassar, NusantaraInsight — Ada getaran tak kasat mata yang kerap bekerja di balik lembaran undangan digital. Di Ballroom Lotus B, Hotel Four Points by Sheraton Makassar, malam itu bukan sekadar perayaan Setengah Abad Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi UNM. Bagi saya, itu adalah sebuah titik temu kosmik—sebuah panggung yang dirancang takdir untuk mempertemukan dua sahabat yang terpisah selama 50 tahun oleh bentangan sejarah, ruang, dan waktu.
Berkali-kali undangan elektronik yang dikirim oleh Ratna Wulandari itu saya buka di layar ponsel. Saya tatap baris demi baris kalimatnya, lalu saya tutup kembali. Ada keraguan kecil yang mengambang. Namun, menjelang pukul tiga sore, rasa penasaran memaksa saya untuk membacanya dengan jauh lebih serius.
Di balik layar digital itu, terhampar sejarah panjang. Lembaran perjalanan LPM Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM)—yang dahulu kami kenal sebagai IKIP Ujungpandang—terbentang sejak kelahirannya pada 5 Mei 1976 hingga detik ini. Setengah abad bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya terekam masa-masa berdarah dan berani: Profesi pernah dibredel, para pengasuhnya pernah berurusan dengan interogasi polisi, dan suaranya selalu konsisten mengeritik ketimpangan di dalam maupun di luar kampus. Membaca kilas balik itu, darah kewartawanan saya berdesir hangat.
Malamnya, dengan mengenakan kemeja batik dan menghidupkan mesin sepeda motor butut milik anak saya, saya membelah jalanan Makassar. Ketika roda motor tua itu berhenti di pelataran parkir Hotel Four Points, jarum jam telah menunjuk pukul 19.30 WITA. Saya terlambat lebih dari satu jam dari jadwal resmi di undangan yang tertulis 18.30 WITA. Namun, bagi seorang jurnalis gaek, waktu formal sering kali melebur dalam momentum.
Langkah saya tertahan sesampainya di meja registrasi panitia. Di hadapan saya, tergelar dua buah buku tamu. Satu buku khusus untuk daftar hadir alumni, dan satu lagi untuk tamu biasa. Saya sempat dirundung bingung yang menggelitik. Di satu sisi, saya adalah bagian dari rahim kampus ini—alumni IKIP Ujungpandang angkatan 1976 jurusan Pendidikan Seni pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS). Di sisi lain, malam ini saya hadir bukan atas nama romantisme masa kuliah, melainkan sebagai undangan terhormat, Pimpinan Umum PedomanRakyat.co.id, jabatan yang disematkan Ratna Wulandari dalam undangan elektronik sore tadi. Akhirnya, pena saya goreskan di atas lembaran buku tamu biasa.
Saat melangkah masuk ke dalam Ballroom Lotus B, atmosfer ruangan masih terasa lengang. Tamu yang hadir masih bisa dihitung dengan jari. Dari empat meja bundar besar yang disiapkan panitia, baru satu meja yang terisi, itu pun hanya dihuni oleh lima orang. Menjaga jarak dan memilih menyendiri adalah gaya otentik saya setiap kali melakukan peliputan. Saya sengaja memilih tempat duduk di barisan belakang meja bundar, menyelinap di sudut sunyi. Tujuannya sederhana: agar kelak jika acara selesai, saya bisa langsung bergeser pergi tanpa perlu repot berpamitan atau melapor kepada panitia.

br
br






br
br





