(Catatan dari bedah Buku Ajoeba Wartabone ”Sekali Ke Djokja Tetap ke Djokja” 16 Juni 2026)
Oleh: Yudhistira Sukatanya
BAGIAN PERTAMA
Kota Makassar awal 1947 berfungsi sebagai ibukota suatu “Negara Bagian”, yakni Negara Indonesia Timur, NIT, yang nantinya menjadi bagian dalam “Negara Indonesia Serikat.” NIS, dikonsep dan diperjuangkan oleh Wakil Pemerintah Belanda di Indonesia Dr. Hubertus Johannes Van Mook, melalui Konferensi Malino dan Denpasar ditempat konferensi terakhir itulah dilahirkan “Bayi ”NIT”. (L.E Manuhua, 1995. Hal 40)
Di kota Makassar yang kosmopolitan dan multietnis membuat kota didatangi para politisi dari seluruh penjuru Indonesia bagian timur maupun politisi dan wartawan dari Negeri Belanda dan negara-negara lain. Maka tak pelak berlangsung berbagai kegiatan yang masing-masing bertujuan berbeda. Para republikan berjuang untuk meruntuhkan keberadaan embrio negara bagian tersebut. Mereka gencar dalam tarung ideologis yang dilancarkan di dalam dan di luar perlemen oleh golongan Republikein pendungkung proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. ( Dias Pradadimara, Juli 2004 )
Dan hari itu, Selasa, tanggal 29 April 1947 berlangsung sidang parlemen NIT, Ajoeba Wartabone dari faksi progresif, republikan, di depan faksi federalis ketika mendapat giliran menyampaikan pandangan umum di sidang parlemen, dengan lantang meneriakkan pernyataan “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja” ( Basri Amin, 2025 )
Apakah sidang parlemen NIT itu berlangsung di di Gouverneurskantoor Celebes, Kantor Gubernur Celebes, Makassar yang dibangun tahun 1937?
Kantor Gubernur Celebes, berlokasi di kawasan Kerkplein, suatu kawasan aun-alun dekat gereja, terletak disisi Timur Benteng Fort Rotterdam. Tepat di depan Gereja Protestan Immanuel. Kantor ini berlantai dua, kompleks itu di utara dibatasi oleh Hooge pad, Jalan Jenderal Ahmad Yani, dimana terdapat pintu masuk utama, di sebelah Timur ada Gouverneurs laan, jalan Balai Kota, dan di Barat oleh Ravelinjnsweg, Jalan Slamet Riyadi. ( SIMCABUD Makassar)
Di seberang Hooge pad, di utara kantor Gubernur ada hotel Oranje yang bergaya art deco, dibangun sekira tahun 1920-an. Para anggota parlemen diduga menginap di hotel Oranje yang kemudian berganti nama jadi Grand Hotel yang kini jadi kantor BRI Makassar. Di sebelah barat hotel ada jalan Klapperlan yang kemudian berubah namanya menjadi Jalan Jampea dan sekarang bernama jalan Ho Eng Djie. Jalan tersebut yang mengantarai Grand Hotel dengan Gedung Societeit de Harmonie.
Atau.
Dari sumber lain ada yang menginformasikan bahwa tempat pelaksanaan sidang pertama Parlemen NIT, dilaksanakan di Gedung Societeit de Harmonie, GSdH, yang dibangun tahun 1896. Bangunan ikonik ini semua merupakan tempat eksklusif untuk dansa, pesta, dan pertemuan petinggi militer serta bangsawan Eropa.













