Mengapa GSdH diinformasikan pernah jadi lokasi sidang Parlemen Negara Indonesia Timur NIT. Karena kerap digunakan untuk acara-acara seremonial besar, rapat pleno, dan resepsi formal kenegaraan NIT, kapasitasnya besar dan ruangannya luas.
Kedua gedung itu yang sangat reperesentatif di tahun 1947 untuk melaksanakan perhelatan besar yang melibatkan 70-an delegasi dan rombongannya.
Atau di gedung parlemen NIT yang berada di belakang Gereja Katedral, tepatnya di bagian belakang bangunan sekolah Frater si jalan Thamrin no 3 Makassar?
Tidak tercantum penegasan tentang alamat yang tepat dimana pelaksanaan sidang Perelemen NIT ketika itu, pada buku yang ditulis Basri Amin edisi pertama.
Padahal di lokasi itulah dinamika perdebatan politik besar, termasuk orasi-orasi masing-masing fraksi, banyak disuarakan dan disaksikan oleh publik.
Kehadiran Ajoeba di sidang parlemen NIT adalah sebagai Anggota Badan Perwakilan sementara. Pernyataan Ajoeba di sidang parlemen NIT disambut riuh tepuk tangan dan siulan dari hadirin. ( Basri Amin 2025. 4)
Ketika di recek ternyata versi Massiara yang tertulis adalah nama Nani Wartabone-adik Ajoeba. ( Massiara, 1988,274)
Teriakan Ayuba ketika itu memicu situasi puncak ketegangan perdebatan, adu argumentasi antar faksi pada sidang Parlemen Negara Indonesia Timur NIT yang selanjutnya mengubah peta kekuatan politik di dalamnya. Moment yang menjadi penanda, Ajoeba kian menegaskan bahwa dirinya sebagai nasionalis sejati.
Perdebatan dalam parlemen kemudian diwarnai oleh mosi tidak percaya kepada kabinet yang sedang berkuasa yang mengakibatkan usia kabinet tidak bertahan lama, (Luhukay, manuskrip t.th.).
Hanoch Luhukay mencatat bahwa ketegangan di dalam Gedung sidang memang tidak berdiri sendiri. Setiap kali debat memanas, suasananya langsung merembet ke jalanan kota Makassar.
Di tempat lain, konflik di luar parlemen terjadi dalam banyak bentuk aksi solidaritas, demonstrasi, pemasangan pamflet slogan, selebaran gelap dan coretan dinding di sudut-sudut kota Makassar, pemuatan karikatur dalam surat kabar, pemasangan poster di tempat-tempat umum, mogok kerja massal dari serikat buruh pelabuhan dan pemuda di Makassar dan lain-lain. Semua bentuk drama politik tersebut adalah upaya untuk membubarkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut mempertegas kegagalan Belanda dalam menjinakkan opini publik di Indonesia Timur. Ajoeba pada kesempatan ini mengukuhkan perannya sebagai republiken, nasionalis sejati.













