Secara simbolik, keberadaan kelompok oposisi pro-Republik di parlemen NIT dipahami sebagai “kuda troya” yang kemudian sukses melumpuhkan pengaruh kaum kolonial dari dalam sistem mereka.
Puncak dari protes dan tuntutan tersebut terjadi ketika dilaksanakannya sosialisasi Proklamasi RI, di Polombangkeng, Takalar. Aksi Penolakan Negara Indonesia Timur (NIT), oleh masyarakat kian menguat dengan melakukan penekan besar-besaran yang menampilkan karikatur perlawanan, protes anti-federalis dan menuntut pembubaran NIT agar kembali ke NKRI
Slogan “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja” yang disuarakan di sidang parlemen kemudian digunakan menjadi simbol perlawanan politik-intelektual untuk menolak federalisme ala Belanda sekaligus menegaskan kesetiaan mutlak anak bangsa kepada Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.
Terbilang sedikit pewarta yang memberitakan peristiwa monumental itu di media massa. Hanya ada di liputan koran Kedaulatan Rakyat (KR) dan Harian Merdeka: Surat kabar pro republik yang terbit di Yogyakarta.
Liputan kedua surat kabar tersebut diketahui sering membakar semangat para pejuang di Jawa dengan narasi bahwa saudara-saudara mereka di Makassar, Bali, dan Manado juga sedang melewati jalur diplomasi di parlemen.
Pemberitaan yang cukup luas terutama melalui jejaring organisasi kebangsaan dan persebaran kabar-kabar parlemen oleh surat kabar pro-Republik dari Makassar ke seluruh Indonesia makin menebalkan pergolakan antara federalisme dan unitarianisme di Indonesia Timur.
Lalu bagaimana pemberitaan koran di Makassar ?
(Bersambung)













