News  

Tak Tercederai & Mencederai di Konfercab PWI Sulsel 2026

Catatan M.Dahlan Abubakar

Makassar, NusantaraInsight — Ketika Ir.H.Suwardi Thahir (ST), M.Ikom diumumkan sebagai Ketua PWI Sulsel periode 2026-2031, rekan FAS Rahmat Kammi memeluk saya sembari terisak sesenggukan.

Rasanya dia sudah berhasil keluar dari lubang jarum. Batin saya refleks merespons. Mata saya berkaca-kaca. Ikut merasakan betapa penuh lika-likunya untuk menjadi seorang kandidat Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel kali ini.

“Mungkin ini ada hikmahnya,” itulah kalimat pengobat dan penyabar hati yang sering saya ungkapkan kepada ST dan Mappiar saat satu dua syarat terbentur pada legalitas. Perasaan ini mengisi hari-hari panjang ST dan saya menjelang Konferensi Provinsi PWI Sulsel 2026 dengan berbagai diskusi-diskusi yang tiada henti.

Saya harus menyampaikan terima kasih kepada teman-teman anggota PWI Kabupaten/Kota yang tanpa mereka, ST dan saya mustahil bisa merebut kesempatan memimpin organisasi wartawan tertua ini lima tahun ke depan. Kami berdua merasa mendapat amunisi raksasa dari teman-teman daerah. Dan, kami menyampaikan terima kasih atas aspirasi mereka.

Begitu pun bantuan dan dukungan yang tulus dan ikhlas dari sahabat-sahabat di TVRI Sulawesi Selatan dan RRI Makassar ikut mengokohkan semangat duet ST dan MDA meniti perjuangan demi perubahan ini. Para wartawan senior pun ikut bersusah-susah mendukung duet kami.

BACA JUGA:  Warga Kolaka Mengikat Simpul Persaudaraan di Makassar 

Bahkan, jauh beberapa tahun silam, melalui teman Rahmat, saya secara emosional dan psikologis merasa larut dan menjadi bagian dari mereka. Merasakan bagaimana kalau saya berada pada posisi mereka dengan kondisi seperti itu.

Kadang saya bertanya, mengapa selalu daerah itu yang menjadi dan dibuatkan masalah, padahal tidak ada masalah.

Oleh sebab itulah, duet ST-MDA mengusung tagline ‘perubahan’. Kita harus berubah dalam segala hal, terutama yang paling penting adalah dalam bidang keorganisasian.

Tanpa bermaksud mengulik masa lalu, ke depan agaknya begitu banyak lubang-lubang yang membuat organisasi ini sering terperosok, harus kita tutupi. Keledai tidak boleh terantuk dua kali pada batu yang sama.

Peserta di-’prank’

Saya merasakan, inilah perhelatan yang penuh dengan lika-liku perjuangan. Untuk menjadi calon saja harus memenuhi empat belas syarat sesuai peraturan organisasi. Syarat yang rada tidak mudah diurus sendiri oleh para calon kalau tidak ada tenaga khusus sekretariat yang bisa mengorganisasikannya.

Duet ST dan MDA sangat beruntung dan merasa berutang budi kepada teman Andi Asmadi bersama Nur Ainun Afiah (Ayi) dan Andrian yang menjadi motor penggerak kelengkapan administrasi duet ST dan MDA.