News  

Tak Tercederai & Mencederai di Konfercab PWI Sulsel 2026

“Suwardi saja yang wakili,” bisik saya sebelum calon Ketua PWI Sulsel periode 2026-2031 ini bangun dari kursi di sebelah kanan saya.

Mungkin tidak cukup tujuh menit, ST muncul diiringi ada suara yang meneriakkan “aklamasi”. Tiba-tiba FAS Rahmat Kammi merangkul saya disertai isak sesenggukan membuat saya ikut larut.

Tak berapa lama, Amrullah Basri dan ST pun diundang ke podium untuk menyampaikan catatan atas musyawarah-mufakat yang ditempuhnya. Saya selaku Ketua DKP terpilih ikut tampil sekadar menimpali visi-misi dan program kerja yang disampaikan ST.

Skenario aklamasi ini memang kita sudah bahas di sekretariat dua malam sebelumnya. Hal ini ditempuh mengingat dukungan teman-teman yang terus mengalir dan kemungkinan jika ada tawaran musyawarah-mufakat di forum konferprov.

Juga mengantisipasi kemungkinan merapatnya sebagian besar teman ‘sebelah’ setelah melihat kekuatan dukungan terhadap ST dari daerah, TVRI, dan RRI yang bagaikan ‘air bah’.

Di ruang konferprov, saya yang duduk di kursi kedua dari depan, kerap menoleh, melepaskan pandangan ke belakang. Melihat peta kekuatan pendukung ST dan MDA. Tampaknya teman-teman kompak. Bahkan dari agenda ke agenda acara konferprov, yang melakukan interupsi hanya dari kubu ST dan MDA. Luar biasa teman-teman ini mengejawantahkan kesepakatan tidak tertulis malam pertama mereka tiba di Sekretariat Makassar.

BACA JUGA:  Presma UINAM Tegaskan Akselerasi Transformasi Polri Jadi Kunci Pulihkan Kepercayaan Publik

Jalan musyawarah-mufakat penentuan Ketua PWI Sulsel 2026-2031 ini termasuk pilihan yang paling tepat. Yang tidak terpilih tak merasa ‘tercederai’. Yang terpilih pun tidak merasa “mencederai” yang lain. Sangat elegan dan bisa dijadikan format untuk menghadirkan organisasi PWI Sulsel yang juga beraktivitas elegan di masa depan.

Saya teringat sebelum memutuskan mendampingi ST. Saat berjalan menuju tangga turun di Sekretariat Tim, rekan Anwar Sanusi, membisikkan kepada saya agar mendampingi ST sebagai calon Ketua PWI Sulsel.

“Carilah dulu sosok lain yang tepat sebagai pendamping ST. Kalau tidak ada, baru saya maju,” saya menjawab enteng.

Mungkin sulit menemukan calon Ketua DKP yang pas dengan rekam jejak jurnalistik yang mumpuni, Anwar Sanusi menetapkan saya sebagai pendamping. Saya juga berharap, teman-teman di daerah masih mengenal nama saya. Ternyata sahabat FAS Rahmat Kammi merespons positif dan ikut “menjual” nama saya ke teman-teman.

Padahal sebelumnya, saya ingin berkonsentrasi di kampus dan mengasuh dua media cetak dan beberapa media daring yang diasuh.
Belakangan, istri memberi tahu, putri saya juga protes kecil. Mengapa saya mengambil kesibukan lagi di PWI, sementara di kampus, menulis buku, dan mengelola medianya, tidak memberinya waktu luang. Tetapi istri memberi pengertian, kehadiran saya untuk membantu mengembalikan muruah (kehormatan) PWI Sulsel.