Terus terang, pemilihan Ketua PWI Sulsel dan Ketua DKP Sulsel kali ini sarat makna religius. Senin malam, saya menelepon seorang teman yang dikenal sebagai penasihat spiritual mantan 02 Indonesia. Saya minta agar dimudahkan dan dijauhkan dari kendala dan halangan dalam menghadapi suksesi PWI Sulsel ini. Dia pun meminta nama ST dan saya.
Selasa (2/6/2026) pagi, saya meninggalkan rumah, setelah membangunkan ayah (98 tahun) yang sedang tidur di kamar cucu pertama saya. Ayah datang berobat mata di Makassar. Beliau bangun waktu itu, saat saya berjalan meninggalkan kamar cucu yang jadi ruang tidurnya sejak 18 Mei 2026. Dari pintu yang tersingkap sedikit, saya memberi tahu akan pergi mengikuti konferensi pemilihan Ketua PWI Sulsel. Saya pun berjalan menuju pintu.
“Pak, Abu (sapaan ayah yang sudah berhaji di Bima) bangun,” seru istri menghentikan langkah saya yang hampir mencapai pintu depan rumah.
Saya menoleh, tampak Ayah mengenakan sarung, masih sempat mengenakan baju batik dan topi hajinya, dengan tangan kanan memegang tongkat berkaki empat hendak ‘mengejar’ saya yang sudah di pintu.
Saya kembali berjalan menuju ke arah Ayah. Saya menjabat tangannya sembari sedikit menunduk.
“Baca…. dan ayat ini di pintu baru melangkah,” pesannya saat saya mengangkat muka untuk berbalik ke arah pintu dan akan meninggalkan rumah.
Tradisi Ayah ini mengikuti Kakek ketika melepas saya ke Makassar tahun 1971. Kakek yang lama tinggal di Tanah Suci Mekkah menjadi guru spiritual bagi para tetua di kampung saya. Kakek mengajarkan bacaan tertentu untuk tujuan khusus.
Di pintu rumah, saya menunaikan harapan Ayah. Membuka pintu, menghidupkan mesin mobil. Menyusuri Jl. Komunikasi yang di sisi kiri kanannya diparkiri kendaraan. Keluar dari kompleks perumahan, lalu membaurkan mobil di antara kendaraan yang mengisi jalan yang belum terlalu sesak pukul 06.30 tanggal 2 Juni 2026.
Dua jam terakhir di Graha Pena, gawai saya kehabisan stamina. Saya khawatir, pasti istri bertanya-tanya.
“Mengapa tidak pernah menelepon sepanjang hari?,” pikir saya.
Usai salat magrib di masjid kecil di dekat Graha Pena, saya meluncur pulang. “Menyibak” kendaraan Jl. Urip Sumoharjo malam hari yang sulit dicari celahnya.
Saat tiba di rumah, Ayah sedang salat Isya. Saya naik ke kamar, istri pun sedang menunaikan salat Isya. Saya meletakkan ransel di ujung tempat tidur yang sudah sangat padat dengan beragam benda di dekatnya lalu keluar kamar sambil menunggu istri usai salat.
Beberapa saat kemudian saya kembali ke kamar. Istri sudah selesai salat dan berdoa.













