Makassar, NusantaraInsight — Sabtu (23/5/2026) malam, kami tiba-tiba disambangi oleh seorang wartawan senior Andi Patarai Wawo saat berkumpul di sekretariat. Kedatangannya melengkapi kehadiran Andi Maskarma, pensiunan RRI Makassar yang baru beberapa menit lebih dulu tiba. Maskarma saat ini tinggal di kediaman anaknya di Polewali Mandar (Polman). Dia memang berdarah Mandar. Kehadiran kedua wartawan senior ini. membuat suasana ruangan yang sebelumnya terisi oleh 5 orang teman menjadi riuh.
Bertemu dengan keduanya, saya sontak teringat kenangan lama. Yang pertama dengan Andi Maskarma. Pada awal-awal tahun 2000-an kami berdua jalan-jalan ke Kabupaten Majene yang ketika itu dipimpin Kakanda Drs.Tadjuddin Noer (1996-2001). Kami hanya berdua.
Jarak 301 km dari Makassar itu saya tidak hitung berapa jam ditempuh. Yang pasti, kemudi tidak pernah beralih dari tangan saya. Meskipun Andi Maskarma juga bisa duduk di belakang kemudi, tetapi saya tidak pernah minta diganti mengemudi. Entah kenapa saya lupa. Mungkin juga asyik saja mengemudi mobil Toyota Komando eks kendaraan dinas Wali Kota Suwahyo mesinnya mendesis halus yang dilego kembali ke NV Haji Kalla.
Kisah perjalanan berdua ke Majene itu, mungkin nilai “human interest” tidak begitu kental. Namun, kisah hadirnya mobil dinas eks Wali Kota Ujung Pandang itu mungkin menarik.
Kisah mobil ini jatuh ke tangan saya bermula ketika suatu hari mengunjungi Pak Syamsul Paewangi, yang menjabat Direktur Pemasaran NV Haji Kalla ketika itu. Tahun 1998 saya ingat benar tepatnya. Pada beliau saya sampaikan niat, jika ada mobil eks pakai yang bisa saya cicil. Pak Ancu — begitu almarhum (kini) akrab disapa — langsung menunjuk mobil eks Wali Kota Ujung Pandang itu.
“Itu mesinnya bagus, terawat karena eks mobil pejabat. Coba saja dulu, kalu cocok,” Pak Ancu menimpali sebelum meminta kunci mobil itu kepada stafnya.
Setelah berhari-hari mengemudi mobil itu, bahkan sampai ke Sengkang, saya kembali bertemu dengan Pak Ancu.
“Tampaknya mobil itu cocok saya pakai, Pak Ancu!,” saya menjelaskan kepada beliau saat kunjungan suatu sore di kantornya. Sore hari, saat-saat yang tepat berkunjung ke kantor Pak Ancu, karena tamu-tamu yang bertemu dengan dia sudah berkurang.
“Ambil mi saja itu. Nanti kau cicil saja per bulan. Berapa saja,” .
“Tetapi berapa plafon harganya, supaya saya tahu berapa jumlah dan bulan saya cicil?,” kata saya sedikit berkelakar kemudian hati berdebar-debar menunggu angka yang disebut Pak Ancu.
“Mobil ini harganya Rp 22 juta, tetapi saya kasih korting Rp 2 juta. Kau cicil saja Rp 2 juta per bulan,” kata Pak Ancu dan saya sama sekali tidak menawar karena sudah diberi diskon.











