NusantaraInsight, Makassar — Seperti denyut nadi yang tersembunyi di balik lapisan waktu, buku Guratan Cinta La Ruhe karya Andi Ruhban menggema dalam diskusi hangat di Pusat Kegiatan Belajar Komunitas Anak Pelangi (K-apel) Lorong Daeng Jakking, Jl. Daeng Tata III, Kelurahan Parangtambung, Minggu (12/4/2026).
Acara ini menjadi panggung bagi surat-surat cinta yang ter-arsip selama tiga dekade, lahir dari kertas karbon rapuh yang menolak untuk dilupakan.
Dipandu cerpenis Anwar Nasyaruddin, diskusi menampilkan dua pembicara utama, penyair Andi Anil Hukma dan Dr. Asia Ramli Prapanca, akademisi sekaligus penyair.
Buku ini, bagian kedua dari trilogi surat cinta, menyusul Balutan Cinta La Ruhe yang telah dibahas sebelumnya.
Andi Ruhban, sang penulis, mengungkap rahasia di balik buku ini.
“Kumpulan surat-surat cinta ini disimpan selama 30 tahun tanpa sepengetahuan keluarga. Jika bukan karena Bang Maman, buku ini takkan lahir,” ungkapnya.
Anil Hukma memuji idealisme penerbitan buku itu sendiri, yang menuntut waktu, biaya, dan tenaga. “Buku pertama saya catatkan edisi tahun 1988-1994. Pada buku pertama dominan nama Hamriani dan buku yang kedua, Jumira mendominasi,” jelasnya.
“Cinta adalah tanda kecil dan besar, sulit dibahas, tapi ada keberanian mengoleksinya,” katanya.
Ia melihat konteks kreativitas di baliknya, bukan asmara semata, dengan 33 judul surat yang bisa jadi inspirasi buku baru.
“Surat-surat ini seperti kebiasaan kecil yang mengembang jadi cerita besar, terinspirasi dari Sayap-Sayap Patah Kahlil Gibran atau Laila-Majnun, Andi Ruhban menghargai ide dari kaum hawa hingga nama besar. Narasi waktu, aksara, dan sejarah. keabadian yang bergerak, mencatat sejarah kecil dan besar.”
Sementara itu, Dr. Asia Ramli Prapanca menyoroti 38 surat cinta itu sebagai denyut kalbu, bukan cerpen atau esai biasa.
“Luar biasa, surat-surat ini tersimpan utuh. Tapi kepadatannya romantisme dicampur filsafat, birokrasi, sains. Mengutip nama Aristoteles mengaburkan perasaan. Kalimat melingkar, lompatan jauh, bikin sesak napas. Kaya intelektual, tapi miskin kejujuran emosional, Jumira mungkin bingung apakah ini surat cinta, ceramah agama, atau kuliah sosiologi? Berat dikontak, hambar di hati.”
Diskusi ini tak hanya menggali isi buku, tapi juga mengajak hadirin merenung: bagaimana guratan cinta bisa abadi, meski terpinggirkan kutipan dan rujukan.
Hadir dalam diskusi ini sejumlah sastrawan, akademisi dan juga jurnalis, di antaranya, Yudhistira Sukatanya, Dahlan Abubakar, M. Amir Jaya, Syahrir Rani Patakaki, Nasri M. Abduh, Rusdi Embas, Zahir Juana Ridwan dan juga anggota para ibu-ibu K-apel.













