Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (1) “Manajer” MBG

Srikandi KM Tilongkabila
Nur Azizah Muhidin.

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Sejak 12 November 2025, para penumpang KM Tilongkabila trayek Benoa (Bali) s.d. Bitung (Sulut) pergi-pulang, akan bertemu dengan wajah baru di kapal milik PT Pelni tersebut. Perempuan kelahiran Bulukumba 23 Januari 2002 ini bernama lengkap Nur Azizah Muhidin.

Penulis yang juga wartawan media ini bertemu dengan sulung dari empat bersaudara tersebut dalam pelayaran KM Tilongkabila Bima-Labuan Bajo-Makassar, 28 s.d. 29 Maret 2026. Ahad (29/3/2026) sore selagi berbaring di kamar 5009 kapal yang dinakhodai Capt. Subair, tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar.

“Pak Aji, dicari Pak Capt.,” seorang perempuan mengenakan seragam putih bersih berjilbab tampak di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.

Di lorong kamar dek 5 kapal, penulis mengikuti Nur Azizah M. menuju salon kapal, masih di dek yang sama.

“Assalam alaikum..ww,” seru Penulis kemudian menjabat tangan seorang pria berjanggut tanggung, mengenakan maju cokelat. Beliau sedang berpakaian santai. Pakaian lepas dinas.

Ayah dua anak ini, Capt Subair, warga Kelurahan Antang yang sejak Juli 2025 memperoleh surat keputusan mutasi ke KM Tilongkabila. Sebelumnya, lulusan SMA Negeri 10 Makassar ini malang melintang di beberapa kapal milik perusahaan pelayaran nasional tersebut.

BACA JUGA:  Catatan Olahraga: Seabrek Beban Ketua KONI Sulsel yang Baru

Penulis pertama kali mengenalnya secara kebetulan. Pada tahun 2018, saat hendak mewawancarai Nakhoda KM Tilongkabila Capt. Indar Bahadi, itulah awal bertemu sosok yang ramah dan humoris ini. Lantaran Nakhoda sedang istirahat, biar ‘tidak pulang kosong informasi’, Pak Subair yang ketika itu menjabat Mualim 1, pun diajak berbincang-bincang. Ternyata setelah satu dua kalimat, terungkap kalau beliau adalah tetangga dekat di Antang Makassar.

Hubungan komunikasi dan silaturahim kami kian lekat dan akrab lagi karena ternyata istri Pak Subair adalah alumni SMAN 10. Satu angkatan dengan Haryadi (Hery), putra sulung penulis. Hanya keduanya berbeda kelas. Banyak kenangan terungkap dalam bincang-bincang di anjungan KM Tilongkabila kala itu.

Setelah pertemuan di anjungan kapal, saat Penulis turun di Pelabuhan Bima, Pak Subair sempat mengantar hingga ke dermaga. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk bergambar bersama yang kemudian menjadi salah satu foto ilustrasi “Lorong Waktu”, buku autobiografi penulis yang juga sempat saya berikan ke Capt. Subair dan dibaca anak buah kapal (ABK) KM Tilongkabila.

BACA JUGA:  Tanda-Tanda Batiniah Rasulullah

Dari KM Tilongkabila, Capt. Subair dimutari ke KM Wilis. Secara kebetulan pula sekali waktu, Penulis dan istri dan seorang cucu ke Bima memanfaatkan kapal berkapasitas 500 penumpang itu. Silaturahim kami bersambung lagi. Saat KM Wilis memasuki “asa kota’’ (mulut kota) Bima, Penulis sempat ikut menyaksikan aktivitas kapal saat merapat di Pelabuhan Bima yang hanya bisa disandari satu kapal penumpang PT Pelni.