Jakarta, NusantaraInsight — Sudah sejak beberapa hari lalu, buku ” Expa, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pecinta Alam (RBMM) karya Endang Mariani, Ed.dkk, penerbit Prenada, Jakarta 2026 tergolek ‘malas’ di meja kerja.
Cuaca di wilayah Depok, akhir Agustus 2026, masih dikabuti-tipis oleh debu vulkanik anak Gunung Krakatau.
“Berkaitan dengan Krakatau ini, saya jadi teringat dan tidak sanggup mencerna, ketika seorang anggota Expa, yaitu KKO (Smandel 80) sempat bercerita pernah mendaki Krakatau (1984), sebanyak tujuh kali, dalam rangka membantu tugas Bakosurtanal,” kata Prof.Dr.Wahyu wibowo, Sastrawan, Penyair, Jurnalis Senior yang juga Pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (Unas-Jakarta).
Ketika tampil sebagai penanggap dalam peluncuran buku “EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia Perjalanan Pencinta Alam (RBMM)”di Ruang Sasana Krida SMAN 8 di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
“Mentari sejak pagi itu, pun, ogah petentengan. Selepas subuhan, saya juga ogah petentengan dan lebih memilih kruntelan bersama sarung.Namun, menengok buku tadi, akhirnya sarung pun saya pelorotkan. Janji kepada Mbak Endang Mariani, untuk membahas buku tersebut, mesti saya tunaikan (meski mesti memelorotkan sarung). Lalu, saya mulai asyik membaca, “katanya lagi.
Catatan pertama, filosofis dari sejumlah penulis yang mengisi RBMM, tidak sedikit yang mewarnai tulisannya dengan ungkapan filosofis tentang (rata-rata) filsafat manusia, yang entah mengapa, seolah menjadi kegemaran penulisnya.
Filsafat manusia, di dalam keilmuan filsafat, adalah cabang ilmu filsafat yang secara kritis, rasional, dan mendasar menyelidiki hakikat, keberadaan, makna, serta tujuan hidup manusia.
Filsuf pertama (abad 6 sebelum Masehi) yang paling terkenal adalah Thales, warga Miletos, -yang karena hidupnya di sebuah kepulauan- ia mengatakan dunia itu mengapung di air.
Lalu, ia juga kerap merenung, “siapakah yang membuatnya mengapung sehingga tidak pernah tenggelam?”
Ia juga merenung, tentang alam dan kejadian alamiah. Mengapa musim berganti-ganti dan selalu datang dan pergi sesuai waktunya?
Siapa pemegang waktu? Pemikiran filsuf tentang alam dan “siapa aku” terus berlangsung.
Pada zaman Athena – yang sering disebut awal zaman keemasan filsafat yunani, atau abad sofis, pada pertengahan abad 5 sebelum Masehi .
Filsuf besarnya bernama Protagoras yang selalu merenungi, tidak ada kebenaran yang tetap dan definitif.
Menurutnya, oleh karena itu, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Tapi, Socrates berjuang mati-matian untuk membantah ucapan Protagoras itu.












