Bagi Socrates, nilai-nilai objektif adalah nilai-nilai yang baik yang harus diperjuangkan. Atas ajaran-ajarannya ini, Socrates dihukum mati dengan cara minum racun.
Catatan kedua Post Truth Dari “panorama” di atas, seperti yang sudah dikatakan, kemudian bermunculan “panorama siapa gue” dari para filsuf lain berdasarkan konteks zamannya.
Akan tetapi, menariknya, pada abad 21 dewasa ini, ketika pemikiran “sedang” berada pada abad bahasa yang melahirkan pemikiran post truth (pasca Kebenaran), yakni ketika fakta objektif tidak lagi berpengaruh dalam membentuk opini publik.
Perhatikanlah, jika kita menyimak (rata-rata) hasil tulisan para penulis yang menyumbangkan tulisannya di RBMM (terdapat 27 orang penulis), maka sebuah refleksi (peninjauan/perenungan atas pengalaman diri) demi mencari jati diri, alias siapa gue, masih digarisbawahi oleh mereka.
Dan, ini menjadi menarik, karena biasanya sebuh buku (masa kini) tidak diterbitkan dalam semangat yang “old fashion” seperti itu.
Artinya, sesungguhnya, lapis pembaca yang seperti apa yang mereka arah? Yang juga menarik, pencarian semangat siapa gue itu disandarkan pada pengalaman ke-27 penulisnya tersebut, yang oleh karena itu mereka juga memberi anak judul pada RBMM, yaitu “Ruang Belajar Menjadi Manusia”.
Jadi, artinya, apakah buku tersebut ditujukan kepada siapa saja yang mau belajar menjadi manusia? Belajar yang dimaksudkan adalah belajar dari alam (baik pada masa mereka masih terikat pada organisasi Puapala SMAN 8, maupun ketika mereka sudah terikat pada organisasi Expa).
Jadi, bukanlah “belajar langsung”, melainkan “belajar melalui persepsi ke-27 penulisnya tentang alam”.
Jadi, juga bukan seperti halnya buku ilmiah, yang ditulis dengan “dingin”, teoretis, dan dengan diksi yang bikin mumet dan ruwet.
Yang jelas, RBMM ditulis dalam gaya jurnalistik, yang cerdas dan menghibur, namun sarat dengan, itu tadi, filosofi siapa gue.
Adakah yang salah “belajar” dari sepenggal persepsi? Karena bahasa “diciptakan” untuk kemudian direkonstruksikan kembali, maka tidak ada yang salah.
Malah, berterima kasihlah kepada ke-27 penulisnya itu, karena melalui persepsi mereka itu para pembacanya bebas-merdeka menafsirkan dan kemudian mengonstruksikannya kembali untuk kepentingan tiap-tiap pembacanya.
Sebagai contoh, akan dikutipkan tulisan Endang Mariani berikut ini (“Jejak Sejarah Puapala dan Expa”; h.3). Perhatikanlah, bagaimana cantiknya ia merekonstuksikan persepsi Leonardo da Vinci bahwa “alam adalah guru terbaik” dengan persepsi Endang Mariani sendiri.












