Artinya, sesungguhnya, lapis pembaca yang seperti apa yang mereka arah? Yang juga menarik, pencarian semangat siapa gue itu disandarkan pada pengalaman ke-27 penulisnya tersebut, yang oleh karena itu mereka juga memberi anak judul pada RBMM, yaitu “Ruang Belajar Menjadi Manusia”.
Jadi, artinya, apakah buku tersebut ditujukan kepada siapa saja yang mau belajar menjadi manusia? Belajar yang dimaksudkan adalah belajar dari alam (baik pada masa mereka masih terikat pada organisasi Puapala SMAN 8, maupun ketika mereka sudah terikat pada organisasi Expa).
Jadi, bukanlah “belajar langsung”, melainkan “belajar melalui persepsi ke-27 penulisnya tentang alam”.
Jadi, juga bukan seperti halnya buku ilmiah, yang ditulis dengan “dingin”, teoretis, dan dengan diksi yang bikin mumet dan ruwet.
Yang jelas, RBMM ditulis dalam gaya jurnalistik, yang cerdas dan menghibur, namun sarat dengan, itu tadi, filosofi siapa gue.
Adakah yang salah “belajar” dari sepenggal persepsi? Karena bahasa “diciptakan” untuk kemudian direkonstruksikan kembali, maka tidak ada yang salah.
Malah, berterima kasihlah kepada ke-27 penulisnya itu, karena melalui persepsi mereka itu para pembacanya bebas-merdeka menafsirkan dan kemudian mengonstruksikannya kembali untuk kepentingan tiap-tiap pembacanya.
Sebagai contoh, akan dikutipkan tulisan Endang Mariani berikut ini (“Jejak Sejarah Puapala dan Expa”; h.3). Perhatikanlah, bagaimana cantiknya ia merekonstuksikan persepsi Leonardo da Vinci bahwa “alam adalah guru terbaik” dengan persepsi Endang Mariani sendiri.
Kelak, pembaca tulisan Endang Mariani itu, akan melakukan persepsi dan konstruksinya sendiri bahwa alam pada masa Leonardo da Vinci pasti berbeda dari alam yang dialami para pembaca tulisan Endang Mariani tersebut.
Maka itu, alam bagi nilai-nilai luhur orang Minang dibunyikan lebih imperatif, “alam takambang jadi guru” (alam yang terkembang jadikanlah guru).
Sementara itu, bagi nilai-nilai luhur orang Jawa berbunyi sangat filosofis demikian, “alam iki sejatining guru” (alam ini adalah guru yang sejati).
Catatan ketiga : pamunah sebagai penutup, demi rasa apresiasi yang tinggi, akan diucapkan tahniah kepada editor atas terbitnya RBMM ini.
Juga, kepada ke-27 penulis yang telah menyumbangkan tulisannya dalam RBMM. Ne transieris sicut ventus. (***)
Kontributor : Lasman Simanjuntak












