Sinrilik merupakan salah satu jenis sastra lisan, yang dilantunkan dalam bahasa Makassar. Penuturnya, disebut pasinrilik, yang menyampaikan cerita sambil memainkan kesok-kesok. Topiknya tentang kepahlawanan, agama, dan cinta, yang sarat dengan petuah-petuah leluhur.
“Hati saya dinging-dinging, begitu Daeng Nassa memainkan kesok-kesok. Waktu itu, saya memang yang meminta Daeng Nassa bermain kesok-kesok,” lanjut Rahma.
Itu kejadian sebelum Sekolah Sinrilik Angkatan I dibuka, pada 2 Mei 2026. Momen itu, membuat mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga itu, penasaran untuk mencobanya sendiri. Begitu Sekolah Sinrilik dibuka, dia pun bergabung.
Semula peserta Sekolah Sinrilik Angkatan I terdiri dari 8 laki-laki, dan 3 perempuan. Semua peserta perempuannya masih bertahan, kecuali peserta laki-laki, yang kini menyisakan 4 orang.
Sebagai tahap awal, yang diajarkan berupa cara memegang kesok-kesok, posisi tangan, dan cara menggesek. Setelah itu, diajarkan melodi, lalu diiringi tutur kata. Jadwal latihannya tiga kali sepekan, pada hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Mereka juga diberi pemahaman seputar pengertian sinrilik sebagai seni tradisi.
“Tantangannya, belum sinkron antara gesekan dengan jemari. Tuturan, yang berkisah tentang Sultan Hasanuddin juga belum masuk,” ungkap Rahma soal kendala yang dialami.
Firah menambahkan, selama latihan, kesok-kesok diizinkan untuk dibawa pulang. Maklum, meskipun jadwal latihan sudah ditentukan, tetapi kalau ke sanggar, mereka bukan sepenuhnya belajar sinrilik. Durasi belajar sinrilik hanya sekira satu jam, selebihnya mereka berlatih menari.
“Kami mulai lancar main kesok-kesok, sebelum tampil di TVRI,” tutur Firah yang satu jurusan dengan saudara kembarnya di UNM.
Keren Kalau Cewek
Pasinrilik baine dari Sanggar Seni Antara Nusantara itu, tampil memukau dalam acara “Apresiasi Budaya” TVRI Sulawesi Selatan, pada tanggal 13 Juni 2026. Acara ini dipandu oleh penyiar dan MC kawakan, Willy “Opa” Ferial. Haeruddin Daeng Nassa juga membersamai anak-anak didiknya tampil di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) tersebut.
Dukungan orangtua, yang menyaksikan mereka tampil di studio TVRI, membuat ketiganya kian bersemangat. Sebuah pengalaman tak terlupan, tampil di bawah sorotan kamera dan ditayangkan melalui stasiun televisi publik.
Pengalaman serupa dikemukakan, Fahira, yang baru mengenal seni tradisi ini kala pembukaan Sekolah Sinrilik. Di situ dia melihat pertunjukan sinrilik secara langsung yang dibawakan oleh Daeng Nassa.

br
br






br





