“Tantangannya, belum sinkron antara gesekan dengan jemari. Tuturan, yang berkisah tentang Sultan Hasanuddin juga belum masuk,” ungkap Rahma soal kendala yang dialami.
Firah menambahkan, selama latihan, kesok-kesok diizinkan untuk dibawa pulang. Maklum, meskipun jadwal latihan sudah ditentukan, tetapi kalau ke sanggar, mereka bukan sepenuhnya belajar sinrilik. Durasi belajar sinrilik hanya sekira satu jam, selebihnya mereka berlatih menari.
“Kami mulai lancar main kesok-kesok, sebelum tampil di TVRI,” tutur Firah yang satu jurusan dengan saudara kembarnya di UNM.
Keren Kalau Cewek
Pasinrilik baine dari Sanggar Seni Antara Nusantara itu, tampil memukau dalam acara “Apresiasi Budaya” TVRI Sulawesi Selatan, pada tanggal 13 Juni 2026. Acara ini dipandu oleh penyiar dan MC kawakan, Willy “Opa” Ferial. Haeruddin Daeng Nassa juga membersamai anak-anak didiknya tampil di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) tersebut.
Dukungan orangtua, yang menyaksikan mereka tampil di studio TVRI, membuat ketiganya kian bersemangat. Sebuah pengalaman tak terlupan, tampil di bawah sorotan kamera dan ditayangkan melalui stasiun televisi publik.
Pengalaman serupa dikemukakan, Fahira, yang baru mengenal seni tradisi ini kala pembukaan Sekolah Sinrilik. Di situ dia melihat pertunjukan sinrilik secara langsung yang dibawakan oleh Daeng Nassa.
Fahira, yang baru tinggal di Gowa, setelah usianya 6 tahun, mengaku dia memang mau belajar sinrilik. Meskipun pada mulanya juga terasa sulit.
“Awalnya saya kesulitan kasi keluar bunyinya. Garebeseki … tidak merdu suaranya, tetapi saya belajar terus, akhirnya bisa,” kisah Fahira, yang disambut gelak tawa.
Pasalnya, ada istilah bahasa Makassar yang terasa aneh diucapkan. Ketika Fahira menyebut “garebeseki”, mereka yang mendengar merasa aneh dengan istilah itu. Dalam bahasa Makassar, ada kata “garese”, yang berarti gerisik, yakni tiruan bunyi daun kering yang saling bersentuhan, atau bunyi serupa gesekan seng.
Tiga gadis ini tinggal di Dusun Sileo 1, Desa Paraikatte, berjarak sekira 2 kilometer dari sanggar. Tampak mereka begitu bersungguh-sungguh berlatih. Dengan berkendaraan sepeda motor, mereka ke sanggar malam hari untuk berlatih seni tradisi.
Ada semacam kesadaran yang dimiliki ketiganya bahwa sinrilik jarang dimainkan oleh anak-anak muda. Mereka tergerak memainkan seni tradisi itu, sebagai upaya pelestarian. Apalagi tidak banyak perempuan yang memainkannya.
“Kami bermain sinrilik, sebagai cara melestarikan budaya sendiri. Seni tradisi ini harus ada yang meneruskannya, supaya tidak dilupakan,” terang Rahma, ketika ditanya mengapa mereka mau berlatih sinrilik.
Tiba-tiba dengan spontan dan kompak, ketiganya menjawab, “Keren kalau cewek yang main sinrilik”.
Indar Jaya punya rencana, bikin malam assinrilik dalam waktu dekat, mengingat Bulan September merupakan bulan literasi. Pertunjukan spesial ini untuk melihat progres anak-anak binaan Sanggar Seni Antara Nusantara.
“Biar kita mulai mempersiapkan generasi penerusnya Daeng Nassa, setelah itu bikin angkatan ke-2 Sekolah Sinrilik,” imbuh Indar Jaya yang bertekad sanggarnya akan terus fokus pada pendidikan dan pelestarian budaya. (*)












