Prof Hasnawi: YPLP PGRI Harus Mampu Bersaing

Makassar, NusantaraInsight — Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Hasnawi Haris, M.Hum., mengingatkan pengurus Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PGRI agar tidak terus bernostalgia dengan kejayaan sekolah-sekolah PGRI pada masa lalu.

Menurut Hasnawi, tantangan pengelolaan lembaga pendidikan saat ini jauh berbeda dibandingkan kondisi 10 hingga 20 tahun lalu.

Sekolah-sekolah PGRI kini menghadapi persaingan yang semakin ketat, baik dari aspek kualitas pembelajaran, sumber daya manusia, tata kelola, maupun sarana dan prasarana pendidikan.

Hal tersebut ditegaskan Hasnawi saat memberikan arahan dalam kegiatan Konsolidasi Organisasi dan Tata Kelola Perwakilan YPLP PGRI Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Dalton Makassar, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di sela-sela pelaksanaan Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) II PGRI Sulsel Tahun 2026.

Hasnawi mengatakan, konsolidasi YPLP PGRI harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi sekolah-sekolah yang dikelola PGRI di Sulawesi Selatan.

Ia mengingatkan bahwa tata kelola yang lemah akan menjadi penghambat utama dalam meningkatkan mutu dan daya saing lembaga pendidikan.

BACA JUGA:  Kabar Gembira, Mendikdasmen Siap Hadir pada Pembukaan Porsenijar 2026 Sulsel di Sidrap

“Tata kelola yang tidak baik pada satuan pendidikan akan menjadi mimpi di siang bolong untuk menghasilkan kualitas yang berdaya saing dengan sekolah lainnya,” tegas Hasnawi.

Jangan Terjebak Kejayaan Sekolah PGRI Masa Lalu

Hasnawi mengajak seluruh pengurus YPLP PGRI Provinsi Sulawesi Selatan bersama pengurus perwakilan kabupaten dan kota untuk mengubah cara pandang dalam mengelola lembaga pendidikan.

Menurutnya, keberhasilan sekolah-sekolah PGRI pada masa lalu dapat menjadi bagian dari sejarah organisasi, tetapi tidak cukup untuk menjawab tantangan pendidikan saat ini.

Ia menilai pengurus perlu lebih banyak membicarakan kondisi nyata sekolah yang dikelola sekarang, termasuk berbagai persoalan yang menghambat perkembangannya.

Sekolah PGRI harus mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya yang terus melakukan pembenahan dan inovasi.

Persaingan tersebut menuntut pengelola sekolah meningkatkan kualitas tenaga pendidik, memperbaiki manajemen, serta menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran.

Karena itu, Hasnawi berharap konsolidasi tidak hanya menghasilkan pembahasan mengenai perjalanan organisasi, tetapi juga melahirkan langkah konkret untuk membangun kembali daya saing sekolah-sekolah PGRI.

BACA JUGA:  Porsenijar 2026 Semakin Dekat, Panitia Provinsi Sulsel "Gasskan" Pertemuan 

Usulkan Satu Sekolah PGRI Unggulan di Setiap Daerah

Salah satu gagasan yang disampaikan Hasnawi adalah pengembangan sekolah percontohan atau sekolah model PGRI di kabupaten dan kota.

Ia menyarankan agar pengurus YPLP PGRI di daerah memilih satu satuan pendidikan yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara serius.

Sekolah tersebut kemudian dibenahi dari aspek manajemen, tenaga pendidik, fasilitas, hingga pengembangan ciri khas pendidikan PGRI.

Menurutnya, langkah tersebut lebih realistis daripada berupaya mengembangkan seluruh sekolah secara bersamaan tanpa memperhitungkan kemampuan sumber daya yang tersedia.

Hasnawi mencontohkan, pengurus PGRI di Kabupaten Sidrap, Soppeng, Enrekang, dan daerah lainnya dapat memilih satu sekolah untuk dijadikan fokus pembinaan dan pengembangan.

Sekolah yang dipilih diharapkan dapat tumbuh menjadi model pengelolaan pendidikan PGRI yang profesional dan berdaya saing.

Keberhasilan sekolah percontohan tersebut nantinya dapat menjadi rujukan bagi pengembangan sekolah-sekolah PGRI lainnya di Sulawesi Selatan.

Hasnawi juga menyoroti pentingnya regenerasi sumber daya manusia dalam pengelolaan sekolah.