“Silajara Connection” Mencuat Saat Bahas Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya

“Tiga cerpen tadi, sepertinya hanya bisa menjadi sampel dari sensasi yang coba saya adop, bagaimana secara umum. Dengan hadirnya Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya sesungguhnya memperlihatkan bahwa ada upaya serius si penulis untuk mengangkat tema perempuan. Disisi lain, ketika penceritaan dalam cerpen di antologi solo ini lebih ingin dicermati maka dari sisi teknis, masih ditemukan beberapa kebocoran logika yang perlu ditambal dengan cermat, unik dan kalau bisa lebih mengejutkan. Selain itu, penting kesadaran bahwa seberapa kenal kita dengan tokoh, setting, karakter dan lainnya, tidak otomatis pembaca mengenalnya seperti itu. Sensasi itulah yang terjadi pada Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya,” ulasnya.

“Lepas dari ungkapan saya diatas. Tetap dapat dipercaya bahwa Mira Pasolong adalah salah seorang dari sedikit cerpenis wanita berbakat besar yang menjanjikan masa depan keberlanjutan dinamika sastra Indonesia,” pungkasnya.

Di sisi lain Amir Jaya yang tampil sebagai pembicara kedua menjelaskan bagaimana buku ini bisa lahir.

“Sebenarnya ada tiga buku yang diusulkan oleh Arya Pustaka pada tahun 2025 yang akan dicetak selain buku Mira Pasolong yang kita diskusikan ini. Ada buku Ungkapan.Hati Seorang Hamba dan in Memoriam Saifuddin Bahrum,” ujarnya.

BACA JUGA:  Rektor Unpacti Makassar Buka Diskusi Buku Green Tea dan Bunga

Presiden Fosait ini juga menyebutkan dua unsur dari lahirnya sebuah karya.
“Yang pertama itu Penulis dan kedua adalah Karyanya. Dan Mira Pasolong yang kebetulan dari Selayar ini merupakan salah satu penulis wanita yang aktif menulis, baik itu cerpen maupun novel,” ujar Amir Jaya yang disambut hangat oleh peserta yang dihadiri oleh para sastrawan ini ketika menyebut kata Selayar.

“Ternyata penulis dan narasumber semua dari Selayar,” kata Amir Jaya yang disahuti oleh peserta dengan ujaran “Silajara Connection”

Senada dengan pembahas sebelumnya Muliaty Mastura yang kedua orang tuanya asal Selayar mengawali ulasannya dengan menyebut “Selayar Connection” dengan bercanda.

“Ternyata Selayar Connection,” imbuhnya sembari membahas cerpen berjudul Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya.

“Saya mencatat sosok perempuan dalam cerita ini adalah sosok pasrah. Pertama pasrah mau melayani suaminya dalam keadaan apapun, kedua, pasrah dia Sarjana tapi take home dan ketiga pasrah kodratnya berkutat pada sumur, dapur dan kasur,” ulasnya.

Ia juga memberi masukan, mengapa tidak memasukkan konflik di dalam ceritanya.
“Seperti memecahkan piring kah, atau ketika dipeluk dari belakang dia melepaskan diri atau memberikan sedikit perlawanan sehingga ada konflik dalam cerita,” sambungnya.