Andi Wanua Tangke Tiga Tahun “Menjahit” HARMAUN

“Buku karya Andi Wanua Tangke ini memadukan cerita sejarah dan juga cerita fiksi, sehingga menarik untuk dibaca,” ucap Dr. Asia Ramli yang dikenal dengan nama panggung Ram Prapanca ini.

“Apalagi HARMAUN ini mengisahkan tentang kisah “kiri” yang biasanya tabu untuk ditulis, apalagi zaman orde baru,” timpal Yudhistira Sukatanya ketika membahas buku karya Andi Wanua Tangke yang “besar” bersama Harian Fajar dan Berita Kota ini.

“Buku ini sangat layak untuk dibaca,” tutupnya.

Sekelumit Kisah HARMAUN

“Malam pekat, menjelang subuh, 18 Oktober 1965. Hujan mengguyur pinggiran kota tua. Suara jangkrik dan kodok menambah kesunyian malam. Harmaun tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Ada suara truk berhenti tepat di depan rumahnya. Terdengar sayup seseorang menyebut namanya.

“Sasaran kita sudah benar. Tidak melesat lagi. Ini rumah Harmaun. Tangkap! Dia seorang kader PKI. Anggota Lekra. Sering menulis di Harian Rakyat, koran milik PKI,” teriak seorang tentara sembari mengacungkan senjata laras panjang.

Sejak tragedi penangkapan itu, hari-hari Harmaun penuh duka dan luka. Bertahun-tahun dalam penyiksaan pihak militer. Bertahun-tahun menolak tuduhan itu.

BACA JUGA:  Kata-Kata Bertuah Mantra _: Ajoeba Wartabone_

“Aku bukan kader PKI, bukan anggota Lekra! Aku hanya penulis di koran Harian Rakyat”…………………………..

……………. Lengkapnya baca Novel HARMAUN.