Pemberontakan di Masjidil Haram

Pemberontakan di Masjidil Haram

Untuk memulai pemberontakannya, Juhaiman dan Muhammad Abdullah berhasil meluncurkan tiga mobil bak terbuka masuk ke dalam Masjidil Haram setelah menyuap para penjaga masjid 40 ribu real, melalui akses jalan Bin Laden (pemilik perusahaan yang membangun tempat suci itu).

Mobil-mobil tersebut dipenuhi persenjataan, amunisi, dan makanan. Keduanya juga menyuruh para mahasiswa agama yang menempati kamar-kamar di lantai dasar masjid pulang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya masing-masing.

Mereka mengatur posisi. Mengunci semua pintu dan akses ke dalam masjid. Sejumlah penembak tepat (sniper) mengawasi setiap gerakan yang mendekati masjid dari ketinggian 89 meter. Dengan posisi tersebut, para pemberontak dengan mudah melibas setiap benda bergerak yang mendekati masjid.

Salah seorang korban pertama yang menemui ajalnya adalah Kolonel Nasir al-Humaid, Komandan Batalion Pasukan Terjun Payung VI Saudi yang semula menolak melakukan penyerangan setelah melihat medan yang sulit. Dia terpaksa melaksanakan tugasnya setelah ’disemprot’ oleh atasannya.

Pemerintah Kerajaan Saudi menganggap pemberontakan Juhaimin ini sebagai ’insiden domestik’ yang hanya dalam waktu tiga hari sudah dikuasai. Namun, pemerintah kerajaan yang tidak mau kehilangan muka di mata dunia, terpaksa berbohong kepada publik.

BACA JUGA:  Ajoeba Wartabone, Pejuang yang Terlupakan

Dunia Islam kemudian bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi di Masjidil Haram? Sebab, untuk pertama kali dalam sejarah Islam, Masjidil Haram tidak menggelar salat Jumat antara tanggal 20 sampai 29 November 1979. Siaran langsung TV Saudi yang biasa dilakukan pada hari Jumat dari Masjidil Haram terpaksa menayangkan siaran langsung salat Jumat dari Masjid Nabawi di Madinah.

Tidak ada jumlah pasti berapa banyak korban dalam pemberontakan tersebut, tetapi yang jelas terbanyak datang dari tentara pemerintah. Terdapat pula korban tewas dari jamaah haji asal Indonesia.

Pernah tersiar bahwa pasukan Amerika dan asing lainnya ikut membantu Arab Saudi memberantas pemberontakan tersebut. Tetapi di dalam buku ini saya menemukan hanya tiga perwira intelijen Perancis yang ikut merancang dan mengatur pemadaman pemberontakan itu dari Thaif, sebuah kota di luar kota Mekkah. Mereka tidak diperkenankan masuk Kota Mekkah, karena kota suci itu wilayah haram bagi mereka yang nonmuslim. Buku ini menarik dibaca, sebab mengungkap ’sejarah yang tak terkuak’ selama ini.

BACA JUGA:  Belajar Lontaraq, dari Kisah Syech Yusuf Hingga Pengobatan Tradisional

“Akhirnya, buku ini memerlukan waktu satu tahun dan hampir seratus ribu mil perjalanan udara dari awal hingga, bahkan demi wawancara terakhir,saya meluncur melewati Atlantik untuk bisa bertemu dengan mantan Kepala Intelijen Saudi, hanya beberapa hari sebelum ‘deadline’ terakhir,” tulis Yaroslav Trofimov di pengantar bukunya.

Yaroslav Trofimov adalah seorang wartawan dan penulis. Ia adalah seorang koresponden untuk “The Wall Street Journal” dan telah menulis beberapa buku tentang sejarah dan politik. Salah satu bukunya yang terkenal adalah “The Siege of Mecca: The 1979 Uprising at Islam’s Holiest Shrine”.(Pengepungan Mekah: Pemberontakan 1979 di Tempat Suci Islam yang Paling Suci), yang sebagian kecil isinya telah Anda baca ini. (MDA).