Kisah Gus Dur di Kairo Potongan Koran pun Jadi Pemuas Dahaga Membaca

Buku Gus Dur
Buku Gus Dur

Ketika tiba di Kairo, Gus Dur berusia dua puluh lima tahunan. Dalam usia seperti itu, dia merasa bebas. Soalnya, ketika remaja di Yogyakarta, kehidupannya relatif bebas, tetapi sebagai putra tertua almarhum kiai besar Wahid Hasyim, setiap gerak geriknya diamati. Termasuk kunjungannya ke bioskop secara diam-diam.

Sebagai seorang siswa pesantren di Magelang dan Jombang, Gus Dur merasakan adanya batasan sosial yang bahkan lebih ketat. Meskipun kemudian Al Azhar cukup mengecewakan dirinya, secara aneh tempat itu merupakan pengalaman yang membebaskannya. Soalnya, ia dapat memperoleh kebebasan menghabiskan waktunya dengan caranya sendiri.

“Ia tidak dihalangi oleh jadwal yang ketat oleh orang-orang yang mengawasinya di kota-kota kecil di Jawa,” tulis Greg Barton (2002:85).

Kesenangannya menonton film terbaik Prancis di Kairo membuat dia sabar menunggu film-film itu diedarkan dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Ia juga banyak menghabiskan waktunya di Perpustakaan Amerika di Kairo, perpustakaan terbesar yang pernah dilihatnya saat itu.

Kendatipun Gus Dur besar di rumah yang penuh buku, keluarga, dan teman-temannya, memungkinkan dia membaca lebih banyak buku daripada kebanyakan teman-teman sebayanya. Kerap dia bekerja keras untuk mendapatkan buku-buku yang ingin dibacanya.

BACA JUGA:  Diantar Ratusan Suporter, Shin Tae yong Tinggalkan Indonesia

Kairo adalah dunia yang berbeda bagi Gus Dur. Perpustakaan-perpustakaan di sini, penuh dengan buku. Jauh lebih banyak dari yang pernah dilihatnya sebelum dia ke kota di pinggir Sungai Nil itu. Boleh dikatakan, Gus Dur adalah seorang maniak membaca. Dia bisa mengelilingi berbagai perpustakaan untuk memenuhi minat bacanya yang tinggi. Aktivitas membacanya tidak kenal tempat. Tidak saja di perpustakaan-perpustakaan, tetapi juga di sekeliling rumah dan di tempat menunggu bus. Yang aneh, jika tidak ada buku, potongan surat kabar atau majalah pun bisa jadi alat untuk pemuas dahaganya akan bacaan.

Ia bisa membaca dengan cepat. Bahkan ketika masih belajar di Pesantren di Jawa, dia masih bisa menyisihkan waktunya membaca. Di Kairo dengan kebebasan yang direnggutnya dan jadwalnya yang tidak padat hasil dari caranya yang nakal dalam menghadapi kelas-kelas yang seharusnya dia ikuti, Gus Dur bisa melahap sejumlah buku yang diinginkannya.

Di Kairo, ia membaca hampir seluruh karya William Faulkner, seorang penulis Amerika Serikat dari Mississippi yang pernah memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1949. Mungkin juga Gus Dur tertarik keeksotisan peraih Nobel kelahiran 25 September 1897 dan berpulang 6 Juli 1962 itu.

BACA JUGA:  Mumi Berusia Ratusan Tahun Dipamerkan di Unhas

Gus Dur juga membaca karya Ernest Hemingway, penulis cerita pendek dan wartawan yang terkenal dengan gaya penulisannya yang minimalisme.

Ketika masih di Jawa, Gus Dur mengembangkan cintanya pada puisi Arab, meskipun ia lebih suka sastra Eropa, terutama prosa. Ia juga membaca prosa dan puisi Edgar Allan Poe. Penyair, penulis, cerpenis, penyunting, dan kritikus sastra ini disukai Gus Dur mungkin karena puisi dan cerita pendeknya, terutama kisah-kisah misteri ‘macabre’ (mengerikan)-nya. Poe juga dianggap sebagai perintis fiksi detektif Amerika.

Gus Dur malah menghapal sebagian terbesar puisi karya Donne berjudul “No Man is An Island”. Ia juga membaca karya-karya Andre Gide dan Kafka, dan juga karya Tolstoy yang sebelumnya tidak bisa diperolehnya. Juga karya-karya Pushkin serta novelis-novelis Eropa lainnya yang mulai dibacanya ketika masih di Jawa. Ia juga memboyong buku-bukunya dari Indonesia ke Kairo. Di antaranya karya Karl Marx dan Lenin yang dibacanya ulang dan kemudian didiskusikan dengan sesama mahasiswa kaum cendekiawan di kedai-kedai kopi di Kairo, kota yang sibuk dengan kehidupan sastra, pencarian pengetahuan dan ide-ide baru.