Diskusi Buku Discription Historiqur du Royume de Macacar (1688) Ungkap Sejarah Mengejutkan

Discription Historiqur du Royume de Macacar
Dari kiri ke kanan: Rahman Rumaday, Yudhistira Sukatanya, Prof Mardi Adi Armin, Anwar Faruq, Prof Muhammad Asdar dan Prof Kembong Daeng.

NusantaraInsight, Makassar — Buku Discription Historiqur du Royume de Macacar atau Sejarah Kerajaan Makassar karya penulis Perancis Nicolas Garvaise, didiskusikan pada Minggu (14/12/2025) di Ruang Makassar, Sunachi Suki Restaurant, Hotel Claro.

Pada diskusi ini pengalih bahasa Prof. Dr. H. Mardi Adi Armin, M.Hum—Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin yang tampil sebagai pembicara menyampaikan bahwa sejarah tidak sekadar dibicarakan—ia dipanggil pulang.

“Buku ini pertama kali ditulis Nicolas Garvaise pada abad ke-17 tepatnya pada tahun 1684, dan saya terjemahkan berasal dari edisi bahasa Prancis tahun 2022 ,” tutur Prof. Mardi.

Ketertarikannya sederhana namun mendalam, Makassar harus membaca kisahnya sendiri.

Enam bulan waktu dihabiskan untuk menerjemahkan buku ini. Ia bahkan menelusuri jejak pewaris Garvaise, memastikan karya tersebut aman untuk diterjemahkan.

Informasi yang diperolehnya menenangkan: buku yang telah berusia lebih dari 50 tahun bebas dialihbahasakan. Ia juga telah menyampaikan kepada penerbit sebelumnya, agar buku terjemahan itu dapat dicetak lagi untuk dipersembahkan sepenuhnya kepada masyarakat Makassar.

BACA JUGA:  Abu Ubaidah Puji Operasi Militer Iran

Secara singkat Prof Mardi menerangkan dalam buku Garvaise, Makassar digambarkan sebagai simpul dunia—pelabuhan besar yang ramai oleh orang asing, tempat agama, budaya, dan kepentingan bertemu.

Pada buku ini mencatat, dua utusan pernah datang membawa ajaran Islam ke Makassar.

“Dua perwira, satu dari Aceh, satu lagi dari Malaka. Sejarah mencatat, siapa yang datang lebih dulu, itulah yang dianut. Islam tiba lebih awal, dan menetap.

Dalam buku ini juga menjelaskan tentang gelar bangsawan Makassar pada masa itu.
“Pada masa itu dikenal gelar Daeng, Karaeng, dan Lolo. Awalnya, Daeng adalah gelar tertinggi, sebelum kemudian Karaeng menempati posisi paling atas.

Buku ini juga mencatat cerita kepahlawanan dari Daeng Mangalle yang tidak setuju dengan perjanjian Bungaya dan berangkat ke Jawa. Akan tetapi karena Belanda terus mencarinya, Daeng Mangalle beserta pengikutnya ke Siam (Thailand) oleh Raja Phra Narai, dan diperbolehkan menetap di pinggiran ibukota Ayutthaya,

“Daeng Mangalle yang berdiam di Siam, kemudian diangkat sebagai pemimpin oleh bangsa Makassar yang memang menjadi pengikutnya serta bangsa Melayu yang berdiam di dana. Ia kemudian memimpin pemberontakan terhadap bangsa asing yang ingin menguasai Kerajaan Ayutthaya. Kedua anaknya yaitu Daeng Rurung dan Daeng Lolo, pascapemberontakan ayahnya Kemudian di bawa ke Perancis dan dirawat sebagai anak bangsawan di sana. Sebuah isyarat bahwa Makassar pernah begitu diperhitungkan,” ulas Prof Mardi.