Diskusi Buku Discription Historiqur du Royume de Macacar (1688) Ungkap Sejarah Mengejutkan

Discription Historiqur du Royume de Macacar
Dari kiri ke kanan: Rahman Rumaday, Yudhistira Sukatanya, Prof Mardi Adi Armin, Anwar Faruq, Prof Muhammad Asdar dan Prof Kembong Daeng.

“Aura kebesaran Sulawesi Selatan terasa di ruangan ini,” ucapnya. Ia menyinggung bahwa banyak arsip sejarah Makassar dan Bone justru tersimpan di luar negeri. Pemerintah daerah, katanya, berkomitmen mendukung upaya menggali kembali sejarah kota.

Bahkan ia menanggapi permintaan Prof. Mardi dan Prof Kembong Daeng agar bahasa dan aksara lontara dibudayakan kembali. Anwar Faruq menyatakan siap menjembatani ke Wali Kota Makassar, bahkan membuka peluang muatan lokal tentang penggunaan bahasa lontara di sekolah dasar dan menengah diajarkan kembali..

“Termasuk Bandara pun diusulkan seharusnya bertuliskan lontara, agar kita tahu sedang berada di mana,” kata Anwar menjawab permintaan Prof. Mardi.

Sementara itu, Rahman Rumaday, Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel) dan Kampus Lorong K-apel, menyebut diskusi ini sebagai bagian dari agenda panjang merawat ingatan kolektif, meski pelaksanaannya baru bisa terlaksana di bulan Desember.

“Bagusnya buku yang diterjemahkan oleh Prof. Mardy, terkoneksi dengan beberapa buku seperti Buku Arupalakka ,” ujar Dahlan Abubakar, penulis buku dan wartawan Pedoman Rakyat.co.id.

BACA JUGA:  Andi Sudirman Sulaiman Nobar Kualifikasi Piala Dunia 2026, Buktikan Peduli Olahraga

Diskusi yang dipandu Arwan D Awing, Direktur Bugis Pos Grup, yang menyebut buku ini sebagai karya pertama yang secara khusus membahas sejarah Makassar dari sudut pandang penulis asing abad ke-17.

Ada catatan singkat yang disampaikan moderator sebelum menutup diskusi yang menjadi pekerjaan rumah bagi peserta diskusi yakni perlu pelestarian bahasa dan budaya daerah. Melakukan pengkajian sejarah lebih mendalam tentang apa dan siapa itu Daeng Mangalle. Pembuatan buku tentang Makassar kembali ke kota dunia. Dan juga memberikan pesan kepada Anwar Faruq sebagai wakil rakyat dan penyambung lidah ke pemerintah kota Makassar.

“jangan tinggalkan kami Pak Dewan,” pinta Awing.

Lewat diskusi buku Sejarah Kerajaan Makassar: Discription Historiqur di Royume de Macacar, karya Nicolas Garvaise, yang dipelopori oleh Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) dan Kampus Lorong K-Apel dihadiri oleh para pencinta sejarah, akademisi, dan pegiat budaya, politisi dan wartawan berkumpul. Bukan sekadar membedah isi buku, tetapi menyusuri ulang identitas Makassar yang pernah berdiri sebagai kerajaan besar di Nusantara pada abad ke-17.

BACA JUGA:  Pemkot Makassar Raih Penghargaan di SPM Awards 2025

Pada diskusi Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Sejarah Kerajaan Makassar) juga diserahkan buku oleh pengalihbahasa Prof Mardi Adi Armin kepada, Prof Muhammad Asdar, Prof. Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya dan Anwar Farouk

Sekilas Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Sejarah Kerajaan Makassar)

Buku Discription Historiqur di Royume de Macacar (Rincian Sejarah Kerajaan Makassar) yang diterbitkan pertama kali di Perancis tahun 1684 ditulis oleh seorang penulis berkebangsaan Perancis bernama Nicolas Gervaise.

Edisi pertama buku ini diterbitkan oleh penerbit Perancis, Grand Saint Grégoir milik pustakawan Hillaire Foucault di Paris pada tahun 1688, kemudian edisi kedua diterbitkan oleh penerbit Jerman, Erasmus Klinkius di Regensburg pada tahun 1700 dengan beberapa tambahan data.

Edisi berbahasa Inggris terbit di London pada tahun 1701. Buku ini terbit 19 tahun setelah berakhirnya perang antara Kesultanan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin melawan VOC (1666-1669).

Buku Pertama.

Buku pertama dari Discription Historiqur di Royume de Macacar (Rincian Sejarah Kerajaan Makassar) menceritakan tentang situasi negara, buah-buahan, tanaman, hewan, sungai dan kota-kota besar, yang diawali dengan penjelasan singkat mengenai peperangan melawan Toraja oleh seorang Raja Makassar yang oleh penulis disebut “Craen Biset“- yang kemungkinan merujuk ke Sultan Ali yang bergelar Karaeng ri Bisei yang merupakan penguasa Gowa tahun 1674-1677 (orang Eropa menyebut Gowa sebagai Macassar).