Dia menceritakan, antara lain mengenai buah sukun yang dia sebut “bacaran” (Makassar: Bakara) sebagai makanan penting bagi orang Toraja, dan perdagangan yang dilakukan melalui Mamuju, tepung atau bahan yang digiling, menanam opium, juga membubuhi racun pada anak panah sumpitan yang didapatkan dari pohon tertentu. Dalam buku itu juga diberikan beberapa nama buah dalam bahasa Makassar; onti (pisang), lame (pisang), sikapa’ (ubi kelapa) dan tentang bunga mawar yang disebut bungajê’nê mawara (bunga air mawar), yang dapat dijadikan parfum dan pengharum kuburan, sehingga disebut juga bunga Jera (bunga orang mati).
Penulis buku itu kemudian berbicara tentang aktivitas pelabuhan Makassar, yang mengingat letaknya yang strategis telah menarik minat Belanda untuk menguasainya. Kisah perang yang dilancarkan Belanda tahun 1650 melawan Makassar sampai kekalahan mereka tahun 1660 (yang hanya berlaku sementara).
Dalam peristiwa ini, penulis memberikan perhatian khusus kepada sosok yang ia sebut sebagai Daeng Mangalle yang diidentifikasi sebagai adik dari Sultan yang memerintah pada saat penulisan buku tersebut.
Sosok ini, yang mengambil bagian aktif dalam perjuangan melawan Belanda, dan sangat menentang perjanjian damai dengan mereka pada tahun 1660, adalah korban dari intrik politik dan dipaksa mengasingkan diri, pertama di Jawa, di mana ia menikah dengan seorang putri Jawa.
Karena takut oleh kejaran pasukan Belanda, ia terpaksa melarikan diri ke Siam bersama 200 orang pengikutnya pada tahun 1664 dan rupanya diterima dengan baik oleh Raja Phra Narai, dan diperbolehkan menetap di pinggiran ibukota Ayutthaya, dengan diberikan hadiah berupa tanah dan mesin pertanian.
Namun, pada tahun 1686, orang-orang Makassar ini dianggap terlibat pemberontakan bersenjata melawan raja dan akhirnya semua terbunuh, kecuali dua pangeran Makassar, yang menurut penulis, dikirim ke Perancis dan dididik di Clermont College (Jesuit College, yang kemudian menjadi sekolah dan perguruan tinggi Louisle – Grand) di Paris.
Buku kedua
Buku Kedua mengulas tentang “Sifat dan kebiasaan orang Makassar, pemerintahannya, mata pencaharian, seni-permainan, pakaian dan adat pernikahan.
Bahagian ini dimulai dengan menceritakan bagaimana mendidik anak (intelektual dan manual), karakter orang Makassar dan sikap mereka terhadap harga diri (siri’) yang membuat mereka lebih memilih mati daripada terhina – bagaimana wanita berperilaku, terutama wanita bangsawan, terhadap laki-laki lain selain suami mereka.
Juga mengenai pelatihan memainkan senjata bagi remaja muda, dan permainan kesukaan pemuda yakni gasing, sabung ayam, dan layang-layang.
Penulis juga mencatat bahwa lima puluh tahun sebelumnya, raja berhasil menerbangkan layang-layang besar dengan lebar sayap 30 kaki, dilengkapi dengan bunyi-bunyian dan ekor yang panjangnya 30 kaki. Pesta layangan ini ditampilkan dalam sebuah ritual yang menandai berakhirnya masa panen, mengambil tempat di sebuah lapangan besar bernama Karebosi.
Kemudian penulis juga menceritakan tentang makanan kesukaan sehari-hari – yang selalu dihadirkan sebagai santapan – di Makassar yakni minuman pedas yang disebut “sorbec”, dari bahasa Arab yang menjadi sara’ba dalam bahasa lokal.
Gervaise kemudian menuliskan tentang kepemilikan budak oleh para bangsawan yang juga menunjukkan martabatnya, di mana diungkapkan sebagai niya ata (“dia budak”) untuk menyatakan posisi sosial-ekonomi seseorang.
Juga ditegaskan bagaimana aturan berperilaku ketika berkunjung ke rumah seseorang yang derajatnya lebih mulia, dengan mengucapkan kesan penghormatan saat masuk sesuai dengan derajatnya, “Maiki Daeng” atau “Maiki Kare”, dengan cara yang sama ketika meninggalkan rumah tersebut dengan berkata ‘Lampama’ Daeng, yang dijawab dengan Lamapamaki’ Daeng.












