Prof.Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S.,M.Hum: La Galigo Medan Tafsir & Ruang Perjuangan Budaya

Dalam cara pandang masyarakat adat To-Cerekang, La Galigo menjadi perangkat naratif yang hidup. Ia hadir dalam upacara adat, dalam jampi-jampi, dalam cerita pengantar tidur, bahkan dalam perilaku keseharian.

Kepercayaan terhadap warisan ini merupakan praktik terus-menerus yang meyakini bahwa dunia tidak dibentuk oleh manusia semata. La Galigo dalam konteks ini menghidupkan sistem pengetahuan lokal yang melibatkan pohon yang tidak boleh ditebang dan air yang leluhur bersemayam.

Andi M.Akhmar mengatakan, salah satu kekuatan visual I La Galigo adalah kemampuannya mentransformasi struktur kosmologis tiga dunia (atas, tengah, bawah) dalam mitos Bugis ke dalam visual panggung. Dunia atas direpresentasikan dengan set menggantung dan cahaya putih menyilaukan, dunia tengah dengan interaksi antarmanusia, dan dunia bawah dengan kabut, kain biru, dan atmosfer kelam.

“Representasi ini membangun kembali suasana spiritual dan kosmologis masyarakat Bugis dalam bahasa simbolik yang dapat ditangkap oleh penonton internasional,” ujar lulusan S-2 (1998) dan S-3 (2012) UGM pernah menjabat Wakil Dekan FIB 2014 s.d. 2021 tersebut. (mda).

BACA JUGA:  Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar Selesai Magang di Pangkep TV