“Kalau berani, satu lawan satu, di tanah lapang, dasar pecundang, beraninya keroyok orang,” dengan berkacak pinggang, NR maju dan mengalamatkan ucapannya kepada ayah salah seorang pengeroyok yang bertandang ke rumahnya.
Sang Ayahnya pun memberi kode kepada istrinya dan spontan si buah hatinya ditarik masuk.
Judul pertama tulisan ini (Keajaiban Masa Kecilku) terinspirasi dari musibah yang menimpa NR ketika kecil. Saat dia bermain di sungai, tiba-tiba banjir bergulung-gulung datang dan menghanyutkan dirinya, meskipun teman-temannya berusaha memegangnya. NR yang lepas dari pegangan temannya pun hanyut terbawa banjir. Beruntung, di hilir sungai, seorang nelayan berhasil melihat kemudian menyelamatkannya. Dalam sekejap, air yang sudah penuh di perutnya pun tertumpah keluar saat sang nelayan yang baik itu membalik badannya dengan kepala di bawah.
Seusai terbawa banjir, NR mengalami sakit. Berhari-hari dia demam tinggi. Ya, usai tenggelam di banjir dan mengalami koma. Dampaknya, rambutnya berguguran, nyaris habis. Yang tersisa, satu-satunya, meranggas, Bagai bulu landak. Akibat perubahan fisiknya itu, teman-teman memanggil NR dengan ‘si Condong’ , si rambut jarang.
Pada tulisan lain, “Menjadi Penulis Cilik” menggambarkan awal proses kreatif NR yang berlanjut hingga kini. Trik dan praktik Andi Rosdianah memberi tugas kepada NR menulis pengalaman saat bermain, merupakan model pembelajaran menulis yang baik dan jitu terhadap anak-anak usia dini. Poin penting pengalaman NR ini sangat layak ditiru dan dipraktikkan kepada anak didik pada usia dini, pada saat mereka sedang dalam proses menerima apa yang datang dari luar dirinya.
Pada bagian kedua, menggambarkan sosok ayah NR sebagai salah seorang ulama terpandang setelah melalui pendidikan sebagai seorang santri. Dia menuntut ilmu di Pulau Salemo, salah satu tempat, bahkan pusat pendidikan Islam penting di Sulawesi Selatan dan Barat pada abad XIX. Dari pulau di Kabupaten Pangkep ini, ayahnya melanjutkan kegiatan ‘nyantri’-nya ke Mangkoso Kabupaten Barru.
Ada satu cerita yang berkadar ‘human interest” saat ayahnya datang ke Mangkoso. Ia menemukan sejummlah gadis sedang mandi dan mencuci di sungai. Melihat ayahnya menyeberangi sungai sembari memikul kasur dan menjinjing barang-barang yang lain, termasuk buku-bukunya, serentak gadis-gadis itu tertawa.
“Ke mana gerangan mayat itu mau dikuburkan,” kata gadis-gadis yang melihat ayahnya memikul kasur di kira sedang memikul mayat.
Mendengar ledekan gadis-gadis itu, ayahnya tersinggung. Pas kebetulan juga ‘pake’ (ilmu penakluk, termasuk wanita)-nya yang diwariskan leluhurnya belum dibuang seluruhnya kala itu. Apa yang terjadi setelah itu?
Keesokan, pada pagi hari, seorang gadis menangis terisak-isak di dekat tangga asrama, mendesak ingin bertemu dengan ayah NR.
“Hei, Rahman, ‘palisui ro tauwe anaqna’ (Hai Rahman, kembalikan (ilmumu) anaknya orang,” serentak teman-temannya berteriak melihat gadis itu datang dan menangis.
Ayahnya pun mendatangi dan menyapa gadis itu dan serentak dia tersadar. Perempuan muda itu malu dan berlari ke rumahnya. Sejak saat itu, orang-orang kampung, termasuk teman-temannya, menilai ternyata Rahman Bone – begitu dia dikenal — bukan orang sembarang. Orang berilmu.
Yang juga menarik pada bagian ini adalah pada judul “Bergerilya di DI-TII”. Judul ini mengungkapkan awal mula ayah NR bergabung dengan Darul Istam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII). Kisahnya, pada tahun 1954/1955 ayahnya bersama AG K.H.Abd.Rahman Ambo Dalle dalam perjalanan ke Makassar. Tiba di sekitar Ma’rang, Pangkep, rombongan mobil mereka dicegat oleh gerombolan DI-TII.












