Empat Profesor Unhas Paparkan Riset Inovatif

Teknologi pascapanen merupakan bagian penting dalam system pertanian, karena berperan dalam menjaga kualitas hasil panen setelah dipisahkan dari tanaman induknya. Penanganan yang kurang tepat setelah panen sering menyebabkan susut hasil yang tinggi, penurunan mutu, kerusakan fisik serta berkurangnya kandungan gizi pada produk pertanian. Oleh karena itu, penerapan teknologi pascapanen menjadi langkah strategis dalam menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen.

“Teknologi pascapanen beras merupakan serangkaian perlakukan dan penanganan yang dilakukan terhadap padi atau gabah setelah panen hingga menjadi beras yang siap dikonsumsi atau dipasarkan. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi susut hasil, mempertahankan mutu fisik dan gizi, mencegah kerusakan selama penyimpanan serta meningkatkan nilai ekonomi beras,” jelas Prof Faidah Rahman.

Beras kesehatan/fungsional merupakan beras yang memiliki kandungan boaktif yang berefek bagi kesehatan manusia. Penerapan teknologi pascapanen melalui proses perkecambahan dapat meningkatkan kandungan senyawa Gamma Aminobutyric Acid (GABA) yang merupakan salah satu senyawa yang meningkat cukup signifikan selama proses perkecambahan.

Peningkatan mutu pascapanen beras melalui perkecambahan gabah mengeksplorasi potensi metode perkecambahan gabah dalam meningkatkan mutu pascapanen beras, baik dari segi nilai gizi maupun kualitas fisik. Proses perkecambahan diketahui dapat memicu perubahan biokimia yang signifikan dalam biji-bijian, termasuk peningkatan kandungan senyawa bioaktif seperti vitamin, asam amino esensial dan antioksidan.

BACA JUGA:  Ketua PGRI Sulsel Harap Majalah Suara PGRI Suarakan 3 Hal, ini Wujudnya

“Kontribusi hasil penelitian ini adalah pengembangan metode inovatif yang dapat meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi beras, sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia. Temuan ini diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan mutu hasil panen sekaligus meningkatkan daya saing beras local di pasar internasional,” tambah Prof Faidah Rahman.

Penerapan teknologi pascapanen tidak hanya bertujuan meningkatkan mutu beras, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi perekonomian petani. Dengan mutu yang lebih baik, harga beras di pasar akan meningkat, sehingga kesejahteraan petani pun dapat terangkat.

*Prof. Dr. Ir. Iqbal, STP., M.Si., IPM*

Pidato pengukuhan lainnya juga disampaikan oleh Prof Iqbal mengenai “Inovasi Alat dan Mesin Pertanian untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan”. Ketahanan pangan merupakan pondasi utama kedaulatan dan kesejahteraan bangsa. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan tantangan perubahan iklim, inovasi dalam alat dan mesin pertanian menjadi krusial untuk melipatgandakan produksi secara efisien, menjamin kualitas dan menjaga keberlanjutan.

Alat dan mesin pertanian (Alsintan) telah menjadi salah satu factor penggerak revolusi hijau, yang memungkinkan peningkatan hasil panen secara signifikan. Dalam konteks ketahanan pangan, peran alsintan dapat dikelompokkan dalam beberapa aspek diantaranya efisiensi produksi, peningkatan produktivitas dan pengelolaan Risiko.

BACA JUGA:  Drg. Tirta Asprimi Angraeni, M.KG.,Sp.KG: Capping Day Langkah Penting Pembentukan Jati Diri Professional Calon Perawat dan Bidan .

“Hal serupa dari berbagai hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penggunaan tractor roda dua dan empat dapat memberikan dampak positif berupa meningkatnya efisiensi waktu olah tanah, menurunkan biaya, meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi. Beberapa penelitian lain tentang alat dan mesin pertanian yang juga telah kami lakukan berupa modifikasi dan uji kinerja aplikator kompos untuk tanaman padi, tebu dan horticultural,” jelas Prof Iqbal.

Alat dan mesin pertanian adalah pondasi utama dalam membangun system pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Konsep ini mencakup penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi local, efisiensi secara ekonomi, serta ramah terhadap lingkungan. Di era digital saat ini dan akan datang, alat dan mesin pertanian berkembang menjadi system pertanian berbasis data, otomasi dan kecerdasan buatan, yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

*Prof. Dr. Adiansyah Syarifuddin, STP., M.Si.,*

Dalam kesempatan ini, Prof Adiansyah memberikan penjelasan penelitian yang dilakukan tentang “Edible Packaging : Strategi Inovatif dan Berkelanjutan untuk Memperpanjang Masa Simpan Produk Pangan”.