Empat Profesor Unhas Paparkan Riset Inovatif

Makassar, NusantaraInsight — Universitas Hasanuddin menghadirkan beragam gagasan inovatif dan perspektif keilmuan strategis dalam Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas untuk Upacara Penerimaan Jabatan Profesor yang berlangsung di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Senin (25/05).

Sebelum resmi dikukuhkan, empat guru besar dari Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Teknologi Pertanian menyampaikan pidato penerimaan profesor yang mengangkat isu kesantunan berbahasa Bugis, teknologi pascapanen, inovasi alat dan mesin pertanian, hingga edible packaging ramah lingkungan sebagai solusi masa depan.

*Prof. Dr. Kamsinah, M.Hum.,*

Pidato pengukuhan dimulai dengan penjelasan Prof Kamsinah mengenai penelitian yang dilakukan tentang “Meninjau Ulang Universalitas Teori Kesantunan Barat : Value – Saving Model of Politeness Perspektif Sosiopragmatik Bugis”.

Sosiopragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan konteks sosial, budaya, relasi kuasa, norma masyarakat, dan tujuan interaksi. Bidang ini memadukan perhatian pragmatic terhadap makna ujaran dengan perhatian sosiolinguistik terhadap norma, relasi kuasa, hierarki, identitas, dan nilai budaya.

BACA JUGA:  Ketua PGRI Pinrang: UU Perlindungan Guru Mendesak

Salah satu tema sentral dalam kajian sosiopragmatik adalah kesantunan berbahasa (Linguistik politeness). Prof Kamsinah menyebutkan, kesantunan tidak semata berkaitan dengan kelembutan kata, tetapi menyangkut bagaimana manusia mengelola hubungan sosial melalui bahasa.

“Berdasarkan pembacaan sosiopragmatik terhadap data budaya bugis, saya mengajukan formulasi teoritis yang disebut Value Saving Model of Politeness. Model ini berangkat dari gagasan bahwa dalam masyarakat, tujuan utama kesantunan bukan hanya menyelamatkan muka individual, melainkan menjaga nilai-nilai yang memungkinkan masyarakat hidup bermartabat juga,” jelas Prof Kamsinah.

Lebih lanjut, Prof Kamsinah menambahkan, salah satu kekayaan terbesar peradaban bugis adalah tradisi manuskrip Lontara. Diantara teks yang penting adalah Lontara latoa yang banyak dibahas oleh Mattulada, serta tradisi teks yang memuat petuah kebangsawanan dan ketatanegaraan Wajo.

Menurut Prof Kamsinah, manuskrip seperti ini harus dibaca bukan hanya sebagai sastra masa lampau, tetapi sebagai korpus pragmatic historis. Artinya, di sana tersimpan jejak bagaimana masyarakat bugis memahami berbagai hal. Dengan pendekatan sosiopragmatik, teks tersebut menjadi laboratorium teoritis yang sangat kaya.

BACA JUGA:  Dosen dan Mahasiswa S2 Kesmas UIN Alauddin Gelar Global Health Action di Kelurahan Walawalaya

“Relasi tutur memperlihatkan pola yang lebih kompleks, menjaga wibawa, menegakkan legitimasi, menyampaikan kritik hingga mempertahankan tatanan bersama. Dari pembacaan terhadap data tersebut, saya menemukan tiga pola utama yakni tuturan langsung sebagai kedekatan bermartabat, tuturan formal sebagai wibawa institusional dan teguran sebagai loyalitas moral,” tambah Prof Kamsinah.