Sri Gusty lagi-lagi memotivasi anak menulis, nanti cerita-cerita yang menarik, bisa dikumpulkan menjadi buku. Salain sebagai akademisi, Sri Gusty juga produktif menulis buku, dan merupakan owner penerbit Arsy Media.
Selanjutnya dia memberikan resep menulis jurnals yang kedua, dengan rumus 3, 2, 1. Maksudnya, apa 3 hal yang mau diketahui hari ini.
Contohnya, mau tahu tentang macam-macam hewan peliharaan, mau tahu tentang literasi, juga mau mengetahui soal kelangkaan gas melon.
Nanti materinya dicari di perpustakaan, atau sumber informasi lainnya. Dari 3 yang mau diketahui, nanti mengerucut menjadi 2 yang paling menarik, kemudian tersisa hanya 1 yang mau diketahui.
Bentuk tulisannya bisa berupa cerpen, cerita, buku mini, puisi atau bentuk lainnya.
“Ini merupakan salah satu cara bagaimana menemukan ide,” imbuhnya.
Kegiatan yang diadakan dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca itu, dihadiri Rusdin Tompo, penulis dan penggiat literasi, serta beberapa guru SD Negeri Tanggul Patompo 2.
Kepala UPT SPF SD Negeri Tanggul Patompo 2, Hj Nahidha Mallapiang, S.Pd, M.Pd, menyampaikan bahwa penguatan literasi baca tulis penting dilakukan bagi anak-anak sejak dini agar tumbuh semangat belajar dan terbangun kesadaran kritis mereka.
Sekolahnya, jelas Nahidha Mallapiang, tengah merintis program inovasi Parkir Buku, akronim dari pembelajaran kreatif melalui literasi membaca menulis berkarya bermutu. Dia kemudian memperkenalkan inovasi Parkir Buku teraebut, termasuk menyampaikan rencana mengubah ruang guru menjadi perpustakaan sekolah.
“Sejak pertama kali datang, saya lihat ada area parkir di depan kantor. Langsung saya terpikir untuk bikin perpustakaan di bekas ruang guru. Sementara ruangan guru pindah ke belakang,” papar Nahidha Mallapiang, yang diberi amanah sebagai Kepala UPT SPF SDN Tanggul Patompo 2, sejak Juni 2026 itu.
Kepala sekolah beralasan bahwa dia menempatkan posisi perpustakaan di depan supaya aksesnya mudah bagi anak-anak.
Dengan adanya perpustakaan, berarti bisa bikin inovasi, anak-anak bisa membaca buku-buku cerita, atau melakukan kegiatan kreatif lainnya.
“Kalau sudah membaca, bisa bercerita, menulis, dan berkarya. Nanti anak-anak didampingi oleh penulis dan penggiat literasi, supaya bisa menghasilkan buku,” pungkas Hj. Nahidha Mallapiang. (*)












