Sukardi Weda, Sang “Profesor Pembelajar”

Sukardi weda
Prof Sukardi Weda (baju putih) bersama penulis Rusdin Tompo

Dalam buku ini, tergambarkan dengan jelas bagaimana seorang Guru Besar tak henti belajar. Beliau tak sebatas hanya membaca teks tapi juga konteks dan mengikatnya menjadi makna, dalam wujud karya dan amalan sosial lainnya. Itulah hakikat perintah IQRA.

Beliau membaca, mendengar, berbicara dan memproduksi gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan, serta mengamalkannya dalam kehidupan, sebagai ciri seorang akademisi, intelektual, dan cendekiawan. Itulah mengapa, buku ini layak disebut sebagai buku motivasi yang diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya.

Untuk membantu pembaca mengikuti alur kisah kehidupan Prof. Sukardi Weda, maka buku ini disusun berdasarkan usia kronologis penulis.

Prof. Sukardi Weda begitu tangkas merespons pertanyaan yang diajukan sebagai clue untuk memantik ia bercerita. Dimulai dari kisah Tolo’e dari Kampung Labempa, berisi pengalaman masa kecil Sukardi Weda yang sempat bergonta-ganti nama karena alasan sakit.

Ia pernah menyandang nama Latahaling, Nukran, Lakarang, Lasuka’, dan Suka’. Nama Sukardi merupakan pemberian ibunya, Igatta, yang berasal dari Desa Nepo, Kabupaten Barru. Sedangkan nama Weda diambil dari nama ayahnya, Laweda, yang berasal dari Dusun Bukkere, Desa Cenrana, Kabupaten Sidrap.

BACA JUGA:  Mewaspadai "Anjing Neraka"

Terungkap pula di bagian ini, ternyata seorang Sukardi Weda yang menyandang banyak gelar, pernah tidak naik kelas saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Dikisahkan tentang kehidupannya yang serba prihatin, sehingga ibunya kerap memasak nanre barelle (nasi jagung), nanre lame (nasi ubi), dan nasi pisang (nanre loka). Seringkali, ketika bersekolah, beliau berjalan kaki demi impiannya menjadi guru.

Pada bagian guru sebagai role model, menceritakan minat Sukardi Weda dalam pelajaran bahasa Inggris, dan sosok guru sebagai inspirasinya. Beliau mencatat beberapa raihan prestasi dalam pelajaran yang disukainya itu, hingga kemudian memilih Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas).

Sebagai mahasiswa, beliau tak hanya disibukkan dengan belajar tetapi juga mencari nafkah, antara lain sebagai loper korek gas, demi membiayai kuliahnya.

Sukardi Weda menghabiskan masa-masa kuliah S1-nya dengan tinggal di kamar masjid. Beliau merupakan aktivis mahasiswa yang bahkan sempat maju sebagai kandidat Ketua Umum PERISAI FS-UH, tapi begitu pemilihan digelar, para pendukungnya justru pulang kampung.

Di bagian wisuda tiga tahun berturut-turut, merupakan bab yang menggambarkan Sukardi Weda sebagai manusia pembelajar. Rupanya, beliau terinspirasi dari filosof dan cendekiawan dunia yang menekuni dan punya kepakaran di beberapa disiplin ilmu.