Ketika Sang Pemuda Bertanya

By : Rahman Rumaday

NusantaraInsight, Makassar — Saat itu lorong tidak langsung sepi selepas Sholat Isya. Pada hari Selasa, 17 April 2026
Lampu-lampu rumah menyala seadanya. Beberapa anak muda masih duduk melingkar di karpet tipis, mushaf belum sepenuhnya ditutup. Suara musik dari beberapa sudut lorong bersahut-sahutan, seolah ikut menjaga suasana yang agak tenang malam itu.

Sang pengajar masih di tempatnya. Belum beranjak.
Seorang pemuda mendekat, duduk agak merapat.

“Pak…”
“Iya?”

Pemuda itu tampak ragu sejenak, lalu bertanya,
“Kalau kita mau berbakti sama orang lain… itu harus yang besar-besar ya? Supaya benar-benar terasa manfaatnya?”

Sang pengajar tersenyum. Ia menatap wajah pemuda itu, lalu bersandar santai.

“Kenapa harus besar?” tanyanya pelan.

Pemuda itu menggaruk kepala.
‘Ya… biar kelihatan. Biar orang juga tahu kalau kita bermanfaat.”

Sang pengajar mengangguk kecil.
“Berarti kamu ingin kebaikanmu dilihat manusia… atau diterima Allah?”

Pertanyaan itu membuat pemuda itu langsung terdiam.
“Iya juga ya, Pak…”

Sang pengajar lalu membaca pelan, suaranya lembut menembus malam:

BACA JUGA:  Pramuka 65 Tahun: Dari Kecakapan Lapangan Menuju Kemandirian Pangan Digital

_”Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian._ ~ Hadits

Beberapa pemuda lain yang tadinya bercanda mulai ikut memperhatikan.

“Berarti… yang dilihat itu hati?” tanya pemuda tadi.

“Iya,” jawab sag pengajar.
“Dan hati itu tempatnya niat.”

Ia lalu menunjuk ke tanah yang tidak jauh dari teras rumah disana berdiri tegak satu pohon. Ada daun kering jatuh, terbawa angin malam.

“Kamu lihat itu?”
“Iya…”

“Daun itu tidak pernah tahu siapa yang akan melihatnya jatuh. Tapi dari jatuhnya itu… tanah jadi subur. Ada kehidupan baru tumbuh.”

Pemuda itu mengangguk pelan.

“Begitu juga kebaikan,” lanjut sang pengajar.
“Tidak harus besar. Tidak harus terlihat. Tapi kalau tulus… dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang kita kira.”

Salah satu pemuda lain ikut menyela,
“Pak, tapi kadang kita ini pengen juga diakui… biar merasa ada artinya.”

Sang pengajar tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Itu manusiawi. Tapi jangan sampai itu jadi tujuan.”

BACA JUGA:  Sukardi Weda, Sang "Profesor Pembelajar"

Ia lalu mengutip ayat yang pendek, tapi terasa dalam :

_”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” ~ QS. Az-Zalzalah: 7

“Sekecil apa pun?” tanya pemuda tadi.

“Sekecil apa pun,” jawab sang pengajar.
“Masalahnya bukan besar atau kecil… tapi ikhlas atau tidak.”

Suasana makin hening. Angin malam berhembus pelan.

Pemuda itu menunduk, suaranya kini lebih jujur,
“Berarti…selama ini mungkin saya banyak berbuat… tapi masih ingin dilihat orang, Pak.”

Sang pengajar tidak langsung menjawab. Ia hanya menepuk bahu pemuda itu.

“Nabi pernah bilang…”

_”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.”_ ~ Hadits

Pemuda itu menarik napas panjang.
“Berarti kalau niatnya salah… amalnya bisa sia-sia?”

“Bisa,” jawab sang pengajar tenang.
“Makanya yang paling berat itu bukan berbuat… tapi meluruskan niat.”

Beberapa pemuda lain mulai ikut diam. Tidak ada lagi suara bercanda. Yang tersisa hanya obrolan ringan yang terasa dalam.

“Pak…” satu lagi bertanya,
“Kalau begitu, cara berbakti yang benar itu bagaimana?”

BACA JUGA:  Tulisan "Jika Saya Wali Kota Makassar" Bisa Mewujud Nyata

Sang pengajar tersenyum, lalu berkata pelan,

Ada yang berbakti dengan ilmu.
Ada yang dengan tenaga.
Ada yang dengan harta.
Dan ada juga yang dengan doa… yang bahkan tidak pernah didengar manusia.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

“Tapi semuanya akan bertemu di satu titik yang sama… yaitu keikhlasan.”

Ia lalu menutup dengan ayat yang membuat malam terasa semakin hidup: