Sukardi Weda, Sang “Profesor Pembelajar”

Sukardi weda
Prof Sukardi Weda (baju putih) bersama penulis Rusdin Tompo

Meski sempat ter-pending, rencana itu akhirnya terwujud pada Januari 2023. Buku Prof. Sukardi Weda diterbitkan Pakalawaki, milik Damar I Manakku, yang juga seorang penulis dan penggiat literasi.

Buku ini diberi judul PROFESOR PEMBELAJAR: Autobiografi Motivasi karena memang faktanya demikian, sebagaimana saya cantumkan di awal. Gelar akademik yang disandang Prof. Sukardi Weda, merupakan indikatornya.

Namun, bukan itu yang menarik dari buku ini, melainkan kisah “Seorang Anak Miskin dengan 6 Gelar Magister dan Menjadi Guru Besar”.

Bila hanya terpaku pada realitas kehidupannya semasa kecil, bahkan hingga dewasa, sulit membayangkan bahwa pria kelahiran Desa Kampung Baru Labempa, Kota Parepare, 5 Januari 1969 ini, bakal mampu menggapai jenjang pendidikan dan berbagai gelar akademik seperti sekarang.

Hanya tekad yang kuatlah yang bisa membawa beliau sampai pada posisinya yang sekarang. Visinya jelas, ikhtiarnya mantap, doanya tak putus-putus, itulah kunci keberhasilannya.

Prof. Sukardi Weda menjalankan semua tugasnya sebagai manusia, menurut Andrias Harefa (2000). Andrias Harefa dalam bukunya “Menjadi Manusia Pembelajar”, menyatakan bahwa tugas pertama manusia adalah menjadi pembelajar (becoming a learner, learning individual). Tugas kedua, menjadi seorang pemimpin (becoming a leader). Sementara tugas ketiga, adalah menjadi seorang guru (becoming a teacher).

BACA JUGA:  SEPUTAR BERTANYA DAN PERTANYAAN

Begitulah tri tugas, tanggung jawab, dan panggilan universal untuk setiap manusia. Rasa-rasanya semua peran itu sudah dimainkan oleh beliau. Bahkan dalam rentang waktu tertentu, secara simultan, tri tugas itu dijalankan bersamaan.

Dalam buku ini, tergambarkan dengan jelas bagaimana seorang Guru Besar tak henti belajar. Beliau tak sebatas hanya membaca teks tapi juga konteks dan mengikatnya menjadi makna, dalam wujud karya dan amalan sosial lainnya. Itulah hakikat perintah IQRA.

Beliau membaca, mendengar, berbicara dan memproduksi gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan, serta mengamalkannya dalam kehidupan, sebagai ciri seorang akademisi, intelektual, dan cendekiawan. Itulah mengapa, buku ini layak disebut sebagai buku motivasi yang diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya.

Untuk membantu pembaca mengikuti alur kisah kehidupan Prof. Sukardi Weda, maka buku ini disusun berdasarkan usia kronologis penulis.

Prof. Sukardi Weda begitu tangkas merespons pertanyaan yang diajukan sebagai clue untuk memantik ia bercerita. Dimulai dari kisah Tolo’e dari Kampung Labempa, berisi pengalaman masa kecil Sukardi Weda yang sempat bergonta-ganti nama karena alasan sakit.

BACA JUGA:  Sebagai Pelukis Baliho Konser KLa Project Pertama di Makassar 1993

Ia pernah menyandang nama Latahaling, Nukran, Lakarang, Lasuka’, dan Suka’. Nama Sukardi merupakan pemberian ibunya, Igatta, yang berasal dari Desa Nepo, Kabupaten Barru. Sedangkan nama Weda diambil dari nama ayahnya, Laweda, yang berasal dari Dusun Bukkere, Desa Cenrana, Kabupaten Sidrap.

Terungkap pula di bagian ini, ternyata seorang Sukardi Weda yang menyandang banyak gelar, pernah tidak naik kelas saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Dikisahkan tentang kehidupannya yang serba prihatin, sehingga ibunya kerap memasak nanre barelle (nasi jagung), nanre lame (nasi ubi), dan nasi pisang (nanre loka). Seringkali, ketika bersekolah, beliau berjalan kaki demi impiannya menjadi guru.

Pada bagian guru sebagai role model, menceritakan minat Sukardi Weda dalam pelajaran bahasa Inggris, dan sosok guru sebagai inspirasinya. Beliau mencatat beberapa raihan prestasi dalam pelajaran yang disukainya itu, hingga kemudian memilih Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas).