Ketika saya ditunjuk sebagai Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan, saya meminta kesediaan beliau menjadi Dewan Penasihat bersama Prof. Ahmad M. Sewang, Prof. Aminuddin Salle, Prof. Itji Diana Daud, dan Prof. Kembong Daeng.
Akhirnya, pada Senin, 30 Mei 2022, saya berkesempatan bertandang ke kantornya, melihat suasana ruangannya, dan aktivitasnya dari dekat.
Sambil meladeni mahasiswa, kami mengobrol tentang SATUPENA dan kegiatan penulisan. Biskuit Khong Guan dan air mineral menemani obrolan kami.
Mahasiswa yang datang menemuinya juga dipersilakan mencicipi biskuit legendaris tersebut, yang memang disuguhkan untuk para tamu. Saat itulah, saya meminta beliau menulis autobiografi.
Diskusi kecil terkait rencana buku itu, yang menahan saya cukup lama berada di ruangannya. Padahal, beliau lagi sibuk-sibuknya. Namun, dengan tetap memberikan layanan ke mahasiswa yang datang—sesuai keperluan mereka—kami coba merumuskan seperti apa buku itu nantinya, kalau jadi ditulis.
Meski sempat ter-pending, rencana itu akhirnya terwujud pada Januari 2023. Buku Prof. Sukardi Weda diterbitkan Pakalawaki, milik Damar I Manakku, yang juga seorang penulis dan penggiat literasi.
Buku ini diberi judul PROFESOR PEMBELAJAR: Autobiografi Motivasi karena memang faktanya demikian, sebagaimana saya cantumkan di awal. Gelar akademik yang disandang Prof. Sukardi Weda, merupakan indikatornya.
Namun, bukan itu yang menarik dari buku ini, melainkan kisah “Seorang Anak Miskin dengan 6 Gelar Magister dan Menjadi Guru Besar”.
Bila hanya terpaku pada realitas kehidupannya semasa kecil, bahkan hingga dewasa, sulit membayangkan bahwa pria kelahiran Desa Kampung Baru Labempa, Kota Parepare, 5 Januari 1969 ini, bakal mampu menggapai jenjang pendidikan dan berbagai gelar akademik seperti sekarang.
Hanya tekad yang kuatlah yang bisa membawa beliau sampai pada posisinya yang sekarang. Visinya jelas, ikhtiarnya mantap, doanya tak putus-putus, itulah kunci keberhasilannya.
Prof. Sukardi Weda menjalankan semua tugasnya sebagai manusia, menurut Andrias Harefa (2000). Andrias Harefa dalam bukunya “Menjadi Manusia Pembelajar”, menyatakan bahwa tugas pertama manusia adalah menjadi pembelajar (becoming a learner, learning individual). Tugas kedua, menjadi seorang pemimpin (becoming a leader). Sementara tugas ketiga, adalah menjadi seorang guru (becoming a teacher).
Begitulah tri tugas, tanggung jawab, dan panggilan universal untuk setiap manusia. Rasa-rasanya semua peran itu sudah dimainkan oleh beliau. Bahkan dalam rentang waktu tertentu, secara simultan, tri tugas itu dijalankan bersamaan.












