Ketika sudah SMA, saya dan teman-teman sering memanjat pohon gersen. Kebetulan, pada saat itu, letak pohonnya berada di depan kelas. Saya dan teman juga sering ke kantin sekolah untuk membeli manisan cermai, mangga dan kerupuk ubi. Bila tiba musim mangga, saya dan teman suka iseng. Kami sering nongkrong di depan kelas hanya untuk menunggu buah mangga jatuh. []
Saya Belajar Jadi Perempuan Mandiri
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Dialektika Arsip, Nilai-Nilai Pancasila dan Akar Masalah Kearsipan Arsip merupakan jati diri sebuah negara dan bangsa. Kegagalan mengelola arsip dapat berimplikasi langsung terhadap pengikisan sendi-sendi Pancasila. Relasi antara pilar-pilar…

Tema “Pers Sehat” yang diusung sepertinya hanya sekadar slogan. Tidak sesuai dengan kenyataan. Ingin pers sehat tetapi proses konferensi menuju pemilihan Ketua PWI Sulsel dan pemilihan Ketua Dewan Kehormatan PWI…

Namun, yang menarik adalah bahwa sebagian besar penghargaan ini lahir dari “laboratorium kelas” SLB, bukan sekadar dari ruang rapat. Ia juga menjadi pemenang lomba inovasi pembelajaran, lomba manajemen keterampilan, dan…

Dupa berupa batang lidi hio, atau dalam bahasa Mandarin disebut Xiang, oleh masyarakat Makassar, bermakna sakral sebagai sarana perantara spiritual, penghormatan kepada leluhur, serta simbol doa dan penyucian. Tampaknya, Hj….

Selain itu, buku ini berhasil mengkritik praktik pendidikan inklusi yang hanya berhenti pada label formalitas. Pertanyaan “Sekolah ramah atau sebatas formalitas?” menjadi kritik yang relevan terhadap banyak institusi pendidikan hari…








