Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Mengenang Ayahnya. Buku ‘Bunga Rampai Sosiologi’ pada Tahun Kelahiran

Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu
Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu membacakan puisi untuk ayahnya

“Bung, anak saya belum selesai sekolahnya. Bung harus mengizinkan Tina sekolah tinggi-tinggi. Dan alhamdulillah bisa diridai oleh Allah, suami mengizinkan saya sekolah setelah berkeluarga,” kata Dwia menirukan ucapan ayahnya memberi nasihat kepada Pak Natsir Kalla agar Tina (panggilan Dwia di rumah) tetap dibolehkan bersekolah hingga selesai.

“Jadi, satu hal yang ingin saya bagikan tentang kebaikan beliau kepada kita semua adalah :sekolah…sekolah…sekolah…,” sambung Dwia.

Dwia enam bersaudara. Satu orang telah meninggal. Tetapi di rumah banyak sekali kakak beradik. Kalau ayahnya pulang menemani Ibu ke Lampung, beliau melihat ada ponakan yang susah dan tidak sekolah, diambil lagi. Pulang lagi, diambil. Kita kakak-kakak dan adik menjadi banyak. Di rumah itu seperti asrama. Kalau beliau ke Gorontalo atau ada keluarga yang asal dari Gorontalo, kalau ada yang susah dan tidak sekolah, ditampung lagi di rumah. Yang penting sekolah. Dari tangan Masri banyak lahir ponakan-ponakan yang telah jadi. Ada yang menjadi pimpinan BRI, ada yang jadi Kepala Bappeda. Itu adalah adik-adik iparnya. Ada ponakannya. Kuncinya, sekolah.

BACA JUGA:  Ramadhan di Al Markaz Al Islami Makassar dan Liputan TV3 Malaysia

Setahun terakhir, almarhum tinggal dengan Dwia di Makassar. Setelah menuntaskan kariernya sebagai bankir, beliau mengabdikan hidupnya untuk agama. Tinggal berdekatan dengan surau di Depok Jakarta. Berguru di sana tentang Tarikat Naqsabandiah. Dan terakhir posisinya dipercayakan sebagai imam surau.

“Ada satu tadi Ustaz Arifuddin Lewa (Arle) ceritakan tentang Alquran, mungkin ini bisa saya ‘sharing’,” kata Dwia.

Daya ingatnya luar biasa menjelang kematiannya. Beliau masih hafal nama-nama orang yang datang. Biar pun nama teman anaknya. Nama guru yoga Dwia pun dihafalnya. Dia hafal semua.

“Pak, saya mau ke Turki,” kata Dwia suatu saat sedang bertugas menelepon ayahnya yang saat itu di Depok.

“Oh..iya, jangan lupa. Nanti Tina (Dwia) ke Blue Mosque (Masjid Biru) ya, nanti letaknya di sini. Di Sofia di ini,” katanya.

“Apa Bapak sudah pernah ke sana,” Dwia bertanya balik kepada ayahnya.

“Belum. Tetapi membaca,” jawab ayahnya.

Jadi, kata Dwia, daya ingat tajam sekali. Saat saya berkesempatan ingin ke Uzbekistan dan di sana saya ingat ada Imam Bukhari, dan Naqsabandiyah-nya, Dwia mengajak ayahnya.

BACA JUGA:  Tak Kenal Maka Tak Sayang, ini Dia H Sunarto, S.Pd.,M.Si Ketua PGRI Lutim 2025-2030

“Sebelum kami pergi, beliau seperti seorang ‘guide’ yang menceritakan bagaimana Uzbekistan, di mana Bukhara, di mana Masjid Bukhara,” katanya.

“Dari mana Bapak tahu semua itu,” tanya Dwia.
“Dari membaca,” jawab ayahnya.

Ingatannya tajam, Seiingat Dwia, pada saat menjadi pimpinan, ingatannya tidak setajam itu. Ternyata yang Dwia pelajari pada hari-hari terakhir, beliau selalu dengan Alquran. Itu yang membuat beliau memiliki ingatan yang tajam. Beliau hafal tempat, hafal nama dan ingat semuanya. Pada saat mudanya tidak begitu. Pada usia tuanya justru beliau ingat. Mungkin buat kita semua, bisa menjadi pelajaran bagaimana Alquran, membaca adalah sesuatu hal yang penting.