Visi Unram yang unggul dan berdaya saing global disinergikan dengan visi Pemerintah Provinsi NTB: “NTB Makmur Mendunia.”
“Riset prioritas Unram harus mendukung program pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pariwisata. Dampak penelitian bukan hanya publikasi global, tetapi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan akses pendidikan di wilayah kepulauan, Prof. Ali menginisiasi gagasan kampus satelit dan transformasi digital.
“Unram berada di provinsi kepulauan dengan lebih dari 400 pulau kecil. Kami ingin bangun kampus satelit di Lombok Utara dan Sumbawa, agar mahasiswa bisa belajar dan praktik langsung di wilayahnya,” jelasnya.
Ia juga mengembangkan konsep blended learning berbasis university farm, memadukan teori dan praktik lapangan. “UNESCO menekankan pembelajaran bukan hanya how to know tetapi how to do, dan itu yang kita wujudkan,” ujarnya.
Dalam rancangan strateginya, Prof. Ali menekankan pentingnya membuka fakultas dan program studi baru yang relevan dengan potensi daerah.
“NTB punya tambang, sektor kelautan, dan pariwisata yang kuat. Maka kita perlu fakultas kelautan, program studi manajemen sumber daya air, dan desain bangunan air untuk mitigasi bencana dan mendukung pariwisata,” urainya.
Unram juga akan mengembangkan Science Techno Park (STP) di kampus pusat, sebagai pusat inovasi dan kolaborasi riset industri. Di area ini akan dibangun Unram Square yang menampilkan produk inovasi unggulan seperti lamtoro beef, lebah madu, mutiara, lobster, udang, rumput laut, hingga alat deteksi cepat penyakit.
Selain itu, Prof. Ali mengusulkan pengelolaan ruang kampus yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Lahan Unram hanya 47 hektare, maka kita perlu tata ruang baru. Parkir dipusatkan di pinggir kampus dan mobilitas dalam kampus menggunakan sepeda listrik. Kita ingin Unram menjadi kampus yang nyaman, hijau, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Jaringan Global dan Kolaborasi Internasional
Salah satu kekuatan terbesar Prof. Ali adalah jejaring internasionalnya.
“Saya menempuh S3 di Nagoya, postdoc di Jepang, dan memiliki kerja sama global dengan banyak universitas luar negeri,” ungkapnya.
Di bawah kepemimpinannya, puluhan mahasiswa Unram telah dikirim ke Italia, Yunani, Turki, Jepang, Australia, Malaysia, dan Filipina untuk program magang dan riset bersama.
“Setiap tahun sekitar 10 mahasiswa magang di Jepang, dari Hokkaido hingga Okinawa,” ujarnya.
Prof. Ali juga tiga kali mengikuti pelatihan kepemimpinan universitas global, yang menekankan kolaborasi lintas negara. “Jejaring ini penting untuk mendukung industrialisasi berbasis potensi lokal. Globalisasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi daerah,” tegasnya.
Menurutnya, posisi geografis Unram sangat strategis sebagai Southeast Gateway Indonesia terhadap perguruan tinggi di belahan selatan dunia seperti Australia, Selandia Baru, dan wilayah Pasifik Selatan. “Unram bisa menjadi mitra strategis global dan pusat pengembangan pengetahuan di kawasan timur Indonesia,” tambahnya.
Humanisme dan Imajinasi dalam Ilmu
Menariknya, di balik sosok ilmuwan dan birokrat kampus, Prof. Ali juga dikenal sebagai penikmat sastra. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar pabrik ilmu, melainkan taman bagi jiwa manusia.
“Bukankah yang kita hadapi adalah human being yang punya rasa?” ujarnya dengan nada reflektif.
Bagi Prof. Ali, ruang-ruang imaji harus tetap mengalir di lingkungan kampus. Imajinasi, menurutnya, adalah bagian dari intelektualitas dan moralitas seorang akademisi.












