Selain itu, Prof. Ali mengusulkan pengelolaan ruang kampus yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Lahan Unram hanya 47 hektare, maka kita perlu tata ruang baru. Parkir dipusatkan di pinggir kampus dan mobilitas dalam kampus menggunakan sepeda listrik. Kita ingin Unram menjadi kampus yang nyaman, hijau, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Jaringan Global dan Kolaborasi Internasional
Salah satu kekuatan terbesar Prof. Ali adalah jejaring internasionalnya.
“Saya menempuh S3 di Nagoya, postdoc di Jepang, dan memiliki kerja sama global dengan banyak universitas luar negeri,” ungkapnya.
Di bawah kepemimpinannya, puluhan mahasiswa Unram telah dikirim ke Italia, Yunani, Turki, Jepang, Australia, Malaysia, dan Filipina untuk program magang dan riset bersama.
“Setiap tahun sekitar 10 mahasiswa magang di Jepang, dari Hokkaido hingga Okinawa,” ujarnya.
Prof. Ali juga tiga kali mengikuti pelatihan kepemimpinan universitas global, yang menekankan kolaborasi lintas negara. “Jejaring ini penting untuk mendukung industrialisasi berbasis potensi lokal. Globalisasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi daerah,” tegasnya.
Menurutnya, posisi geografis Unram sangat strategis sebagai Southeast Gateway Indonesia terhadap perguruan tinggi di belahan selatan dunia seperti Australia, Selandia Baru, dan wilayah Pasifik Selatan. “Unram bisa menjadi mitra strategis global dan pusat pengembangan pengetahuan di kawasan timur Indonesia,” tambahnya.
Humanisme dan Imajinasi dalam Ilmu
Menariknya, di balik sosok ilmuwan dan birokrat kampus, Prof. Ali juga dikenal sebagai penikmat sastra. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar pabrik ilmu, melainkan taman bagi jiwa manusia.
“Bukankah yang kita hadapi adalah human being yang punya rasa?” ujarnya dengan nada reflektif.
Bagi Prof. Ali, ruang-ruang imaji harus tetap mengalir di lingkungan kampus. Imajinasi, menurutnya, adalah bagian dari intelektualitas dan moralitas seorang akademisi.
“Sains tanpa imajinasi akan kering, dan imajinasi tanpa sains tidak akan bertahan,” katanya.
Dengan rekam jejak akademik dan manajerial yang kuat, jejaring global luas, serta visi pendidikan yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, Prof. Muhamad Ali, Ph.D tampil sebagai figur akademik yang memadukan intelektualitas dan kearifan lokal. Ia membawa semangat “think globally, act locally” dari jantung Nusa Tenggara Barat untuk menjangkau dunia.
“Jika ingin mewujudkan Unram berdaya saing global, kita harus bersinergi dengan jejaring global dan pemerintah daerah. Karena kampus ini bukan hanya milik akademisi, tapi milik masyarakat NTB dan Indonesia,” pungkasnya.













