Prof. Mardi : Bapak logika itu Nabi Ibrahim

Saya kembali mengingat bagaimana Prof. Mardi menjelaskan bahwa dalam dunia Islam, logika tidak bermula dari Aristotle atau Plato.

“Bapak logika yang sebenarnya itu Nabi Ibrahim.”

Saya bergumam dalam hati,
“Kenapa selama ini saya lebih mengenal Yunani… daripada para nabi?”

Prof. Mardi menjelaskan, selogisme Nabi Ibrahim adalah perjalanan yang hidup-positif… positif… positif… lalu menjadi negatif, hingga menemukan Tuhan yang sejati.

Sementara logika Yunani berjalan lurus-positif ke positif-tanpa ruang negasi spiritual.

Saya merenung,
“Jangan-jangan…kebenaran itu justru ditemukan saat saya berani meragukan apa yang tampak?”

Seperti Nabi Ibrahim yang berkata yakni ini bukan Tuhanku… hingga ia menemukan yang hakiki.

Lalu saya mengingat kalimat berikutnya,

“Al-Qur’an itu logis dan rasional.”

Saya mengulangnya pelan,
“Logis… dan rasional…”

Dan tiba-tiba saya merasa… selama ini saya belum benar-benar menjadikannya sebagai cara berpikir.

Prof. Mardi kemudian mengatakan bahwa Al-Qur’an membuka diri pada berbagai disiplin ilmu. Bahwa ilmu itu memiliki nilai dari kehidupan dan alam semesta. Bahwa ilmu itu adalah panduan.

BACA JUGA:  MAKIN TUA MAKIN PERJAKA

Saya bertanya pada diri saya sendiri,
“Kalau ilmu itu panduan… kenapa saya masih sering tersesat dalam cara berpikir saya sendiri?”

Saya teringat lagi kata Prof. Mardi bahwa salah satu sumber ilmu adalah imitasi, meniru.

Saya tersenyum kecil,
“Berarti saya harus memilih… siapa yang pantas saya tiru.”

Lalu satu kalimat itu kembali mengetuk hati saya,

“Tuhan akan mempermudah jalan bagi siapa yang ingin menemui-Nya.” ~ Katanya

Saya terdiam lama.

“Selama ini… saya benar-benar ingin menemui-Nya?
Atau hanya ingin tahu tentang-Nya?”

Pembahasan tentang metode berpikir pun kembali hadir. Bahwa “Al-Qur’an banyak menggunakan pendekatan deduktif-yang diarahkan, yang kuat.” ~ Kata Prof. Mardi

“Deduktif lebih kuat dari induktif.”

Saya bergumam,
“Mungkin selama ini saya terlalu banyak mengumpulkan serpihan… tapi belum punya arah.”

Lalu Prof. Mardi menyampaikan sesuatu yang sederhana namun dalam-tentang simbol “=” dalam matematika.
Bahwa dalam ilmu matematika “setara” itu sebenarnya tidak pernah benar-benar bertemu.

Saya tersenyum tipis,
“Seperti manusia… yang selalu mendekati kebenaran, tapi tidak pernah menjadi kebenaran itu sendiri.”

BACA JUGA:  Nona Ambon, Makassar, dan Lagu Anging Mammiri

Prof. Mardi juga menyebut bagaimana orientalis membagi Al-Qur’an menjadi tiga yakni sejarah, hukum, dan transenden.

Saya bertanya dalam hati,
“Apakah cara membagi itu sudah benar?”

Prof. Mardi menegaskan bahwa pembagian harus berdasarkan kesamaan yang hakiki. Jika tidak, maka ia akan keliru.

Dalam logika, katanya, pembagian itu sulit karena selalu ada “bentuk antara”.

Saya terdiam.

“Jangan-jangan… selama ini saya terlalu cepat menyimpulkan… tanpa memahami ruang di antara.”

Dan satu kalimat terakhir itu masih menggema kuat yakni

“Kalau bertanya tentang proses… mulailah dengan ‘bagaimana?'”

Saya mengulangnya,
“Bagaimana…”

Bagaimana saya belajar.
VBagaimana saya berpikir.
Bagaimana saya hidup.

Saya menarik napas panjang.

Lalu kembali pada satu pertanyaan awal,

“Saya…sebenarnya pulang membawa apa?”

Dan kali ini, saya menemukan jawabannya.

Saya tidak hanya membawa ilmu.

Saya membawa cara berpikir.
Saya membawa cara memandang.
Saya membawa cara menjadi manusia.

Saya menutup percakapan batin itu dengan pelan,

“Belajar itu ternyata bukan soal seberapa banyak yang saya tahu…tapi seberapa dalam saya berubah.”

BACA JUGA:  Uang Beredar Februari 2025

Dan mungkin…
hari itu bukan hanya tentang saya bertemu seorang guru besar.

Tapi tentang…
saya dipertemukan dengan cara baru untuk menemukan kebenaran.