Limbah batu marmer Leang-Leang – situs yang menyimpan jejak cadas tertua peradaban manusia- engkau campur dan leburkan ke dalam pigmen cat.
Tindakan ini menghadirkan metafora palimpsest: perjumpaan material prasejarah yang membisu dengan impuls ekspresi seni masa kini. Tekstur marmer yang kasar dan berdebu itu seolah menjadi deposit ingatan kultural; ia mengingatkan kita bahwa di balik keriuhan transaksi modern dan pasar digital yang makin terkikis nilai kemanusiaannya, ada akar ekologis dan jejak kebudayaan purba yang mestinya kita rawat, bukan sekadar dieksploitasi demi ganjaran komodifikasi semata.
Melalui karya-karyamu, engkau bertindak layaknya seorang etnografer yang merekam denyut keseharian sekaligus memberikan “peringatan kultural”. Ketika pasar meluas hingga ke ceruk digital dan naluri untung-rugi menjadi satu-satunya kompas hidup, karya-karyamu hadir menegur dengan lembut: bahwa kita berisiko kehilangan hakikat kemanusiaan jika seluruh ruang hidup direduksi menjadi sekadar angka-angka konsumsi.
Esensi Karya
Inilah sebetulnya penyikapan estetis yang telah lama saya tunggu: sebuah Pameran Tunggal bernas yang membedah esensi pasar sebagai panggung pertukaran makna. Melalui pendekatanmu, engkau mengajak penikmat seni menembus batas fungsi ekonomis, melihat pasar sebagai panggung estetika interaktif.
“Warna-Warna yang Saling Tawar-Menawar”- atau Tawar Menawar Ekspresi Visual – adalah refleksi kultural bahwa keharmonisan hidup kerap kali tidak lahir dari ketertiban yang kaku dan hegemonik, melainkan dari proses negosiasi yang terus-menerus, toleransi, serta pencarian titik temu di tengah keberagaman.












