KETIKA SEPAK BOLA MENJADI SEJENIS AGAMA MODERN

Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin terpecah, sepak bola menyediakan satu bahasa yang dipahami hampir semua bangsa. Sebuah gol tidak memerlukan penerjemah. Air mata kekalahan juga tidak membutuhkan kamus.

Namun justru di situlah muncul pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa manusia begitu mudah menyerahkan seluruh emosinya kepada sebelas pemain di sebuah lapangan?

br

Mungkin karena di dalam diri kita selalu hidup kerinduan yang sama, yaitu kerinduan untuk percaya, memiliki, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Sepanjang sejarah, kerinduan itu selalu mencari tempat berlabuh. Kadang pada agama, kadang pada bangsa, kadang pada ideologi, kadang pada seorang pemimpin, kadang pada seorang selebritas, dan pada zaman modern sering kali juga pada olahraga.

Ketika sebagian ikatan tradisional melemah, kerinduan itu tidak ikut menghilang. Ia hanya berpindah tempat.

Sepak bola menjadi salah satu persinggahan terbesarnya.

Namun di sinilah kita perlu membedakan antara simbol dan tujuan. Sepak bola mampu menghadiahkan kegembiraan, membangun persaudaraan, serta mengajarkan disiplin, keberanian, kerja sama, dan kesetiaan. Tetapi ia tidak dapat memikul seluruh beban pencarian makna hidup manusia.

BACA JUGA:  Asa di Ujung Lintasan: Perjuangan Orang Tua Muh Tal’at Al-Amin Menembus Batas Down Syndrome

Setelah peluit terakhir berbunyi, pertandingan berakhir. Trofi diangkat. Para penonton pulang. Stadion kembali sunyi. Kemenangan yang hari ini terasa abadi perlahan berubah menjadi kenangan.

-000-

Ketika seluruh dunia merayakan kemenangan Spanyol, saya justru kembali teringat kepada Mateo.

Saat orang-orang memenuhi jalanan untuk berpesta, ia masih duduk di depan kursi kosong milik ayahnya.

Trofi suatu hari akan tersimpan di museum. Rekor akan dipecahkan. Para pemain akan pensiun. Nama-nama baru akan menggantikan nama-nama lama.

Namun cinta seorang anak kepada ayahnya tidak pernah diukur oleh papan skor.

Di situlah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Ia bukan sekadar permainan. Ia menjadi wadah bagi kenangan, bahasa bagi kasih sayang yang sulit diucapkan, dan ruang tempat kehilangan dapat dikenang tanpa harus dijelaskan.

Tetapi ketika sorak sorai telah reda, setiap manusia tetap harus menjawab pertanyaan yang lebih sunyi. Apa yang membuat hidup ini benar-benar layak dijalani?

Sepak bola dapat menghadiahkan kita perayaan bersama. Namun makna hidup harus ditemukan di tempat yang lebih dalam daripada sebuah stadion.

BACA JUGA:  Kenapa Orang Mulai Lelah Peduli Gaza?

Lampu stadion akhirnya dipadamkan. Nyanyian para pendukung menghilang bersama malam. Tetapi pencarian manusia tidak pernah benar-benar berakhir.

brbr
brbr
br