Komersialisasi memperbesar bahaya itu. Kesetiaan diubah menjadi pasar. Cinta penggemar diterjemahkan menjadi angka penjualan. Seragam menjadi komoditas. Identitas berubah menjadi merek.
Tubuh atlet diperlakukan sebagai mesin yang harus terus menghasilkan kemenangan. Olahraga yang semula membangkitkan kemanusiaan perlahan dapat terjebak dalam logika industri yang tidak pernah mengenal kata cukup.
Di situlah tampak paradoks sepak bola. Ia mampu mempertemukan orang-orang yang tidak pernah saling mengenal, tetapi juga dapat memecah belah mereka. Ia menghadirkan pelukan, tetapi juga melahirkan hooliganisme, rasisme, dan nasionalisme yang kehilangan kebijaksanaan.
Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap altar memiliki bayangannya sendiri. Semakin besar cinta yang diletakkan manusia di atasnya, semakin besar pula kemungkinan lahirnya fanatisme.
Lapangan hijau tidak terkecuali. Ia dapat menjadi ruang tempat manusia menemukan persaudaraan, tetapi juga tempat manusia lupa bahwa lawan tetaplah sesama manusia yang sama-sama menangis ketika kalah, sama-sama bersorak ketika menang, dan sama-sama pulang kepada keluarganya setelah pertandingan usai.
-000-
Ada buku lain, buku ketiga, yang memberikan warning. How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (2004) karya Franklin Foer mengajak kita memandang sepak bola sebagai jendela yang paling jernih untuk memahami wajah globalisasi.
Melalui perjalanan ke stadion-stadion di Beograd, Glasgow, Barcelona, Teheran, hingga Rio de Janeiro, Foer memperlihatkan sebuah paradoks yang menggugah.
Globalisasi tidak selalu menghapus identitas lama, tetapi kerap justru mempertajamnya. Di balik gemerlap pertandingan, ia menemukan jejak-jejak hooliganisme Serbia, sektarianisme yang membelah Celtic dan Rangers, serta antisemitisme yang membayangi tribun Ajax dan Tottenham.
Dari sana, ia menelusuri persinggungan sepak bola dengan oligarki bisnis ala Silvio Berlusconi, korupsi yang menggerogoti sepak bola Brasil, hingga arus migrasi pemain Afrika yang mengikuti logika pasar global.
Pada akhirnya, Foer menawarkan sebuah kesimpulan yang bernuansa: nasionalisme yang tumbuh secara sehat dalam sepak bola tidak harus menjadi bibit fanatisme. Ia justru dapat menjadi penyangga yang mencegah manusia terjerumus ke dalam tribalisme yang jauh lebih berbahaya.
-000-
Di tengah pusaran bisnis dan ancaman fanatisme itu, manusia toh tetap datang. Mereka tidak hadir untuk komoditas atau industri, melainkan untuk merawat kerinduan paling mendasar dalam jiwanya.


br
br
br






br
br






br