“Permata Karya” Kembong Daeng

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Editor, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Takalar — Nama Kembong Daeng pertama kali saya ketahui dari buku “Pappilajarang Basa Mangkasarak” untuk SD Kelas I-VI (Sipakaingak). Buku itu saya baca di perpustakaan SD Negeri Borong, Kota Makassar, tahun 2018, ketika mulai mengembangkan program minat bakat, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Saat berlangsung Pameran Buku di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, di Talasapang, Jalan Sultan Alauddin No. 7, Makassar, saya diajak ke salah satu stan yang memajang buku-buku Beliau oleh seorang teman, ketika berada di lokasi kegiatan.

Setelah itu, saya diberi nomor kontak Kembong Daeng. Sejak saat itu, kami mulai berkomunikasi.

Beberapa hari kemudian, saya mengajak Beliau untuk membincangkan bukunya, “Perempuan Makassar”, dalam acara Sastra Sabtu Sore. Gayung bersambut, tawaran saya diterima.

Sesuai rencana, Sastra Sabtu Sore digelar pada 5 September 2020, dalam rangka menyambut Hari Aksara Internasional, 8 September. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama DPK Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar.

BACA JUGA:  Suriati Tubi; Orang Tua Siapa Tidak Bahagia Melihat Anaknya Wisuda

Dr. Mayong Maman, M.Pd., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Yudhistira Sukatanya, sastrawan dan sutradara teater, sebagai pembahas bukunya, sedangkan saya sebagai moderator.

Dalam interaksi yang belum begitu lama, saya melihat kecintaan, keikhlasan, dan kesungguhan Beliau dalam berkarya, terutama terkait bahasa dan sastra Makassar. Interaksi awal ini berlangsung ketika Beliau masih Doktor, belum dikukuhkan sebagai Profesor.

Saya sering menjadikan Beliau sebagai role model bahwa seorang Profesor pun mau tampil membaca puisi (berbahasa Makassar), tanpa memilih tempat. Sungguh terlihat sikap tawaduknya, sikap yang tak berjarak dengan siapa saja.

Komunikasi kami terus berlanjut, sampai ketika Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk, tanggal 1 Juni 2022, dan saya diberi amanah oleh Pengurus Pusat SATUPENA sebagai Ketua (tapi saya lebih memilih menggunakan istilah Koordinator).

Saya pun menghubungi Beliau, meminta kesediaannya menjadi salah seorang Dewan Penasihat bersama Prof. Ahmad M. Sewang, Prof. Aminuddin Salle, Prof. Itji Diana Daud, dan Prof. Sukardi Weda.

BACA JUGA:  Bogor dan Dinamika Peraturan KPI tentang P3 dan SPS

Jika ditarik dalam konteks keagamaan, cerita di balik perkenalan dan pertemuan saya dengan Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., bukan semata kebetulan. Hal ini merupakan jalan takdir, garis iradat dari Sang Maha Pengasih, hingga saya dipercaya menjadi editor buku Autobiografinya: Permata Karya, yang diterbitkan Pakalawaki, 2024.