“Permata Karya” Kembong Daeng

Salah satu di antaranya, sebagai legal drafter Ranperda Provinsi Sulawesi Selatan tentang Literasi Aksara Lontaraq, Bahasa, dan Sastra Daerah. Ranperda yang merupakan rekomendasi Festival Aksara Lontaraq pertama, 2020 ini, kemudian disahkan sebagai Perda definitif pada tahun 2023.

Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), saya juga mengembangkan beberapa program inovasi sekolah yang berkaitan dengan pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Misalnya, program inovasi PUSAKA di SD Inpres Cilallang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. PUSAKA merupakan akronim dari pelestarian budaya, bahasa, keaksaraan dan sastra daerah.

Kembali pada sosok Prof. Kembong Daeng, saya melihat Beliau mirip sastrawan Norwegia, Jon Olav Fosse, kelahiran 29 September 1959. Penerima Nobel Sastra 2023 itu, gigih menulis dalam bahasa minoritas Norwegia, Nynorsk.

Nynorsk atau Norwegia Baru, merupakan salah satu dari dua bentuk tulisan bahasa Norwegia yang ada saat ini. Bahasa ini hanya digunakan oleh 10 persen penduduk di negara Skandinavia itu. Ada yang menilai, penggunaan bahasa ini merupakan isyarat politik yang diam-diam.

BACA JUGA:  MEMBINCANGKAN [LAGI] KEKUASAAN

Anders Olsson, Ketua Komite Nobel Sastra, menggambarkan Fosse sebagai orang yang memadukan “keberakaran dalam sifat dan bahasa latar belakang Norwegia”.

Prof. Kembong Daeng pun begitu. Beliau menarik akar kulturalnya ke ranah akademik, memprosesnya, lalu dituangkan dalam wadah-wadah karya buku ajar agar anak-anak zaman kekinian tidak kehilangan tradisi leluhurnya yang adiluhung. Hal ini merupakan upaya pewarisan–semacam wasiat bagi kita–agar dilaksanakan penuh kesungguhan.

Tanpa kasak-kusuk dan tanpa berteriak, Prof. Kembong Daeng, melahirkan karya demi karya. Buku pertamanya Kana Alusukna Mangkasaraka malah terbit tanpa ISBN. Namun dari situ pintu-pintu royalty terbuka. Dari sisi bisnis perbukuan, ada segmen dan ceruk pasar yang belum terisi. Meski bukan itu sejatinya tujuan Beliau.

Kembong Daeng terus mencipta karya sastra, menulis buku ajar, maupun buku-buku referensi untuk siswa, mahasiswa, hingga untuk kalangan masyarakat umum.

Buku-bukunya antara lain, Kosakata Tiga Bahasa (2013), Sintaksis Bahasa Makassar (2015), Kelong-Kelonna Tau Mangkasaraka (2018), dan Puisi Perempuan Makassar (2018), Pappilajarang Basa Mangkasarak jenjang SD hingga SMA, jilid I-XII (2000), Gaya Bahasa dan Penerapannya dalam Bahasa Makassar (2000), Kelong Pannyaleori 33 jilid (2021), Pakrimpungan Sanjak Mangkasarak (2022), Apresiasi Puisi Makassar (2022), dan Puisi Sumur Tak Mengering (2022).

BACA JUGA:  Batu Palestina Inikah Maharnya?

Idealismenya terus terlecut untuk menulis dan melahirkan karya, sebagai upaya nyata menyelamatkan aksara Lontaraq. Sebab, tidak banyak bangsa-bangsa di dunia yang memiliki aksaranya sendiri. Diperkirakan, hanya ada sekira 25 aksara di dunia, yang sebagian juga terancam punah, karena pengguna dan penggunaannya kian sedikit. Padahal, penemuan aksara merupakan tanda kemajuan suatu peradaban.

Di Indonesia, meskipun keragaman bahasa daerah mencapai 718 bahasa lokal, tetapi yang punya aksaranya sendiri hanya beberapa. Aksara-aksara yang tersebar di Nusantara, antara lain, aksara Bali, aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Karo, dan aksara yang kita miliki di Sulawesi Selatan, yakni Lontaraq.

Karena itu, perlu upaya bersama yang–dalam istilah Prof. Nurhayati Rahman, Guru Besar Universitas Hasanuddin– disebut dengan gotong royong kebudayaan untuk menyelamatkan aksara kebanggaan kita tersebut.

Dalam buku Autobiografi Permata Karya kita dapat membaca kisah tokoh pelestari aksara Lontaraq tersebut yang tak melulu hanya berupa cerita hidupnya sendiri. Melainkan juga berisi banyak pesan dan muatan moral yang bersumber dari budaya dan kearifan suku Makassar, seperti dari syair-syair Kelong.