Obituari H.Murtadji S.Arwy: ‘Manajer’ Sekretariat yang Rapi

Cara Pak Murtadji menagih iuran seperti ini termasuk sangat santun dan tidak ‘mencederai’ perasaan teman-teman anggota PWI. Setelah Pak Murtadji tidak lagi di posisi itu, saya tidak tahu bagaimana mekanismenya. Wallahuallam bisssawab.

Murtadji S.Arwi dilahirkan di Bogor 6 April 1940. Suami dari Hj.Bahria dengan satu anak ini, sejak tahun 1964 terdaftar sebagai wartawan. Empat tahun kemudian dia menjadi anggota PWI dan hingga akhir hayatnya mengantongi KTA 23.00.0616.68 Seumur Hidup.

br

Sebelum tiba di Makassar, Pak Murtadji bekerja sebagai Staf Sekretariat Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat di Jakarta (1960-1967). Sambil bekerja di SPS itu, dia menggandengnya sebagai Koresponden Harian “Tanah Air” dan “Mercu Suar” Makassar di Jakarta.

Rupanya sejak tamat SMA, dia sudah berurusan dengan pekerjaan sebagai wartawan. Untuk mendukung keterampilan jurnalistiknya, dia mengikuti penataran wartawan tingkat dasar dan lanjutan tahun 1972 dan 1974. Pada tahun 1977 dia mengikuti Penataran Wartawan Hankam. Di Jakarta pada tahun 1978, Pak Murtadji mengikuti Pendidikan Teknik Percetakan yang diselenggarakan Departemen Penerangan RI.

BACA JUGA:  Seandainya Lakkang Jadi Laboratorium Wisata Berkelanjutan (2)

Ketika Karya Latih Wartawan (KLW) Bidang Pemerintahan pada tahun 1983 di Makassar (yang juga saya ikuti), Pak Murtadji termasuk salah seorang pesertanya. Peserta lain di antaranya, Syahrir Makkuradde, Ajeip Padindang, Hasan Mintaraga, Hasan Kuba, dan beberapa wartawan Makassar lainnya.

Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang diwajibkan pemerintah Orde Baru kepada seluruh organisasi di Indonesia, juga berlaku bagi PWI Sulsel. Dan Pak Murtadji, termasuk pesertanya dan berlangsung pada tahun 1980. Dia ikut kegiatan penataran ini bersama sejumlah wartawan senior lainnya. Saya tidak ikut karena sudah mengikutinya di Unhas pada tahun yang sama. Delapan tahun kemudian, dia mengikuti Oprientasi Kewaspadaan Nasional (Orpadnas) sebagai wadah mengindoktrinasi para wartawan dengan idealisme Orde Baru.

Dalam sejarah organisasi PWI Sulsel, nama Pak Murtadji akan selalu dikenang sebagai sebagai ‘manajer’ kesekretariatan yang andal dan penuh dengan pengabdian. Dia melakoni tugasnya dengan senyum dan keramahan. Ketika mendengar dia tidak lagi di tempatnya itu karena perubahan rezim di kepengurusan PWI Sulsel, saya sangat bersedih. Mengapa sosok yang sangat telaten dalam urusan kesekretariatan organisasi profesi ini disingkirkan.

BACA JUGA:  Sorot Gebrakan Pj Gubernur Bahtiar Baharuddin

Selamat jalan Pak Murtadji, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbil alamin. (M.Dahlan Abubakar).

br
brbr