Obituari H.Murtadji S.Arwy: ‘Manajer’ Sekretariat yang Rapi

“Setiap surat PWI Sulsel yang keluar harus ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris. Jika ini berlanjut saya akan menghadap ke Pak Gubernur,” kata saya bernada ‘mengancam’ kepada salah seorang Staf Humas Kantor Gubernur Sulsel yang saya tahu betul sangat dekat dengan para wartawan. Staf itu tahu kalau saya sangat mudah bertemu Pak Amiruddin yang ketika itu menjabat Gubernur Sulsel.

Saya pun datang ke Kantor Gubernur Sulsel Jl. A.Yani (Balai Kota Makassar sekarang) untuk mengambil dana tersebut sebesar sesuai yang sudah diketahui. Usai menerima dana tersebut saya langsung ke Balai Wartawan.

br

“Pak Murtadji, ini ada uang Rp 1.000.000, gunakan untuk membuat bilik kerja Kepala Sekretariat yang terpisah dengan meja yang lainnya,” kata saya sembari menyerahkan uang tunai di dalam amplop kecil berwarna cokelat.

Menjelang sore, tiba-tiba masuk telepon dari salah seorang staf Humas Pemprov Sulsel.

“Kenapa Bapak datang ambil dana PWI tanpa sepengetahuan saya,” katanya.

“Loh.. saya menerimanya dari Bagian Keuangan dan tidak ada perintah atau petunjuk harus melapor ke Staf Humas,” jawab saya.

BACA JUGA:  Anies Baswedan Menolak Tawaran dengan Integritas dan Elegan

Telepon itu sebenarnya hanya trik belaka yang sudah berlaku sebelum-sebelumnya ketika saya belum mengambil langsung dana bantuan tersebut. Tampaknya, pantas saja, dana itu bisa cair mudah meskipun secara administratif, surat yang masuk tidak ditandangani oleh dua pihak yang lazim menekennya.

 

Mengingatkan

 

Setelah Kantor PWI Sulsel pindah ke Jl. Andi Pangerang Petta Rani, masa jabatan saya juga berakhir. Gerbong kepemimpinan PWI Sulsel beralih ke Pak Alwi Hamu (alm.) yang pemilihannya sempat tertunda beberapa lama karena adanya penolakan terhadap namanya sebagai calon tunggal. Padahal, dari kalangan wartawan muda anggota PWI juga ada calon lain, yakni Kak Syahrir Makkuradde (alm.).

Pak Murtadji tetap diposisikan sebagai Kepala Sekretariat PWI Sulsel di kantor yang baru. Tugasnya selain mempersiapkan surat-surat yang hendak dikirim ke luar, juga mengurus kelengkapan administrasi perpanjangan kartu tanda anggota (KTA) PWI yang dikirim ke PWI Pusat. Tugas lain adalah “menagih” iuran anggota yang sudah keluar KTA-nya.

Almarhum punya cara yang santun jika KTA wartawan sudah tiba dari Jakarta. Dia akan menelepon pemilik KTA untuk datang mengambil kartunya masing-masing. Nanti saat hendak mengambil KTA-nya, Pak Murtadji memberi tahu besar tunggakan iuran sang pemilik KTA itu. Jadi, teman-teman langsung membayar iuran bersamaan dengan penyerahan KTA. Kalau saya, begitu ditelepon, langsung menanyakan berapa utang iuran KTA yang harus dilunasi agar dapat menyiapkan dana secukupnya.

br
brbr