Datang terlambat berarti mengambil sebagian waktu orang lain tanpa izin.
Masalahnya, budaya permisif membuat pelanggaran kecil terus-menerus mendapatkan pembenaran. Terlambat lima menit dianggap biasa. Terlambat tiga puluh menit dianggap wajar. Terlambat satu jam pun akhirnya tidak lagi mengejutkan. Ketika sesuatu yang salah dilakukan berulang-ulang dan tidak pernah dikoreksi, masyarakat perlahan kehilangan kepekaan terhadap kesalahan tersebut.
Mungkin pembaca dalam hati bertanya: apakah penulis sendiri telah menerapkan budaya disiplin waktu?
Pertanyaan itu sangat wajar. Kritik tentang kedisiplinan akan lebih bermakna jika penulis juga bersedia bercermin kepada dirinya sendiri.
Saya bersyukur pernah mendapatkan pendidikan di Politeknik ITB, yang secara tidak langsung membentuk budaya disiplin dalam diri saya. Jadwal kuliah dimulai pukul 07.00 pagi. Tidak ada toleransi yang longgar terhadap keterlambatan. Konsekuensinya pun jelas: jika seorang mahasiswa tidak mampu mengikuti aturan dan terus melakukan pelanggaran, ancaman DO (drop out) terbuka lebar bagi siapa pun.
Pengalaman tersebut memberi pelajaran bahwa pendidikan yang dibarengi dengan kedisiplinan dapat membentuk budaya kerja. Pengetahuan memberikan kemampuan, sedangkan disiplin membentuk kebiasaan dalam menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab.
Saya merasakan manfaat pendidikan dan kebiasaan itu ketika mendapat amanah memimpin perusahaan jalan tol di lingkungan Bosowa. Bukan bermaksud memuji diri sendiri, tetapi pengalaman ini mungkin dapat menjadi sedikit spirit bagi pembaca.
Pada masa itu, saya memiliki kebiasaan datang ke kantor sekitar pukul 07.00, sementara jam kerja karyawan secara umum baru dimulai pukul 08.00. Ada manfaat sederhana tetapi penting dari kebiasaan tersebut. Sebagai pimpinan, saya dapat melihat secara langsung bagaimana kedisiplinan kedatangan para karyawan. Saya tidak perlu hanya mengandalkan laporan mesin absensi untuk mengetahui kondisi di lapangan.
Ketika seorang pemimpin hadir lebih awal, ia juga memberikan pesan melalui perilakunya. Pesannya sederhana: kalau pimpinan saja menghargai waktu, mengapa bawahannya tidak?
Saya juga kagum kepada Presiden RI ke-6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, yang saya kenal memiliki kebiasaan hadir sebelum acara dimulai. Bagi saya, kebiasaan tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada waktu dan kepada orang-orang yang telah menunggu. Seorang pemimpin yang hadir lebih awal memberikan pesan sederhana tanpa perlu banyak berbicara: bahwa waktu orang lain juga berharga.












