banner 728x90

Menulis Opini dan Esai di Medsos dan Media Massa

  • Bagikan

Oleh: Asnawin Aminuddin

NusantaraInsight, Gowa — Sejak bisa membaca, mungkin kelas satu atau kelas dua SD, saya memang sudah hobi membaca. Saya membaca apa saja yang bisa dibaca. Mulai dari buku, koran, majalah, tulisan di pembungkus (makanan, minuman, bedak, dll), sampai nama toko dan nama jalan bila sedang melintas di jalanan.

Saya juga senang dan rajin membaca Al-Qur’an dan sudah khatam sejak kelas empat atau kelas lima SD, lalu kemudian menjadi asisten guru mengaji, yang waktu itu guru mengaji kami adalah ibu dari ibu saya alias nenek kami sendiri.
Dua dari empat kakak saya, sayalah yang melanjutkan mengajarinya mengaji sampai khatam (waktu itu kami sebut Tamat Qur’an Besar), padahal mereka lebih duluan mengaji.

Sejak SD, saya juga sudah menulis puisi (waktu itu disebut sanjak) dan juga menulis cerpen. Rasa-rasanya tidak banyak teman seusia saya waktu itu yang rajin menulis.
Saya juga sering diminta oleh guru di sekolah untuk meng-imla’, membacakan isi materi mata pelajaran untuk ditulis teman-teman di kelas. Artinya, sejak SD saya sudah jadi asisten guru, he..he..he..

BACA JUGA:  Anisah Usman, Puisi, dan “Pappasangta” RRI Makassar

Waktu SD sampai SMP, rumah yang paling sering saya kunjungi yaitu rumah salah seorang paman saya. Kami memanggilnya Etta Mappa’, yang waktu itu menjadi pejabat publik sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba.

Saya sering ke rumahnya karena sebagai Anggota DPRD, ia mendapat jatah langganan koran dan majalah. Waktu itu, langganannya antara lain koran Harian Pedoman Rakyat, Koran Harian Kompas, dan juga Majalah Panjimas (Panji Masyarakat).

Saya membaca apa saja yang bisa dibaca, tapi ada dua bacaan favorit saya yaitu cerpen dan kisah tokoh-tokoh agama, penemu, pejabat, dll. Mungkin karena itulah, saya selalu memasukkan kisah-kisah dalam berbagai tulisan dan setiap kali berceramah di masjid (sebagai muballigh) setelah dewasa.

Satu lagi hobi saya ketika masih sekolah, yaitu saya senang korespondensi. Dulu namanya sahabat pena. Saya saling berkirim surat dengan orang-orang seusia di berbagai daerah.

Kami berkenalan lewat surat menyurat yang dikirim lewat Kantor Pos, dan juga berbagi cerita. Sayalah yang berinisiatif mengirim surat untuk berkenalan setelah melihat foto dan alamat mereka terpajang di koran atau majalah.

BACA JUGA:  Muhasabah Diri di Tahun Baru Islam

Surat yang dikirim ketika itu butuh waktu berhari-hari untuk sampai di alamat tujuan, begitu pun surat balasannya.
Setelah kuliah, saya melanjutkan kebiasaan menulis dengan menulis artikel opini untuk dimuat di koran Harian Pedoman Rakyat dan koran Harian Fajar, Makassar. Honor tulisan lumayanlah untuk ukuran mahasiswa, he..he..he..

  • Bagikan