Catatan Pinggir Wisuda Unpacti: Akhir Manis Sebuah Perjuangan, Berangkat dari Cibiran

Abang Rahman bukan hanya seorang kakak, melainkan seperti orang tua bagi kami. Ia membimbing kami untuk disiplin belajar, mengingatkan sholat, mengaji dan bahkan memastikan kami makan dengan baik. Meski masih duduk di bangku SMA, Abang Rahman sangat dewasa pemikirannya. Masih SMA dia sudah keluar ceramah di kampung-kampung, dan setiap pulang, ia selalu membawa makanan atau kue untuk kami yang menunggu di masjid. biasa bulan Ramadhan dia bersama teman-temannya safari Ramadhan dari masjid ke masjid di kota Fakfak bahkan sampai di pulau-pulau sampai berhari-hari kalau dia pergi seperti itu biasa dia titip uang untuk keperluan kami selama dia pergi.

*Menuju Pendidikan Lebih Tinggi*

Setelah lulus dari MTsN, kemudian saya di daftarkan oleh abang Rahman di MAN Fakfak, tempat Abang Rahman juga bersekolah. Disana saya melanjutkan pendidikan menengah atas SMA, saya duduk di kelas 1 Abang Rahman lulus, dan dia tidak pulang kampung dia langsung berangkat ke Makassar melanjutkan kuliah di Makassar, tetapi tidak pernah melepaskan tanggung jawabnya kepada kami.

BACA JUGA:  Tulisan "Jika Saya Wali Kota Makassar" Bisa Mewujud Nyata

Sebelum pergi, dia menyampaikan sama saya, Kadir setelah ujian saya tunggu di Makassar nanti kuliah disana, kemudian dia juga memberikan pesan :
_”Kadir, belajar yang baik, jaga nama kedua orang tua dan keluarga, jangan nakal, ikuti aturan di sekoah dan jangan lupa sholat, mengaji, dan rajin ke sekolah.”_

Mendengar itu saya pun menangis karena abang Rahman yang jadi orang tua kami selalu mengingatkan kami belajar menjaga makan kami, bahkan kalau saya dan teman-teman belajar dalam Masjid dia duduk jaga di depan.

Biasa kalau dia menyuruh kami belajar dia sendiri yang buatkan susu atau teh kemudian dibawa simpan dekat kami baru dia keluar duduk diluar jaga kami, kalau dipikir-pikir dia masih SMA. Saat itu, tapi pikirannya seperti orang dewasa atau orang tua yang sudah punya anak. Namun, kembali saya menyalahkan kesedihan saya bahwa Abang Rahman berangkat ke makassar bukan meninggalkan kami tapi dia ke Makassar untuk melanjutkan kuliahnya disana. Lalu ramai-ramai kami antar dia ke pelabuhan dan kapal pun berangkat meninggalkan dermaga Fakfak menuju Makassar.

BACA JUGA:  PGRI Cabang Marioriwawo Soppeng Serahkan Ratusan Paket Lebaran Bagi Guru Non ASN

Setelah kami pulang dari pelabuhan antar dia berangkat saya duduk di Masjid dan menangis, seiring berjalannya waktu setelah beberapa Minggu saya mengingat kembali pesannya, kemudian saya pun bangkit dan semangat sekolah sampai pada akhirnya tidak terasa waktunya tinggal menghitung minggu saya mengikuti ujian nasional.

Saat Abang Rahman dengar saya dan beberapa teman saya yang tinggal sama-sama di masjid akan ujian abag Rahman pun datang ke fakfak dari Makassar hanya untuk mengawal saya dan teman-teman saya ujian di MAN sampai saya selesai ujian. Saya belum dengar kelulusan. Namun, Abang Rahman sudah harus kembali ke Makassar. Di suatu sore yang penuh haru , abang Rahman mengajak mama dan bapak saya dan saya sendiri dia bawa kami masuk ke dalam kamar rumah keluarga di fakfak yang di tempati kedua orang tua saya . Kedua orang tua saya, yang datang jauh-jauh dari Gorom, Maluku, sengaja datang untuk mendampingi saya mengikuti ujian. Di dalam ruangan sederhana itu menjadi saksi sebuah momen yang akan terus tertanam dalam hati dan pikiran saya.