Catatan Pinggir Wisuda Unpacti: Akhir Manis Sebuah Perjuangan, Berangkat dari Cibiran

Namun, Abang Rahman tidak berhenti di situ. Dia menatap langsung ke arah mama dan bapak, lalu kepada saya, dengan sorot mata yang membakar semangat.
“Tapi dengar ini baik-baik,” katanya sambil mengepalkan tangan. “Kata-kata itu sudah saya dengar semua. Maka jangan dengar itu lagi! Tutup telinga, diam, dan istighfar. Allah SWT Maha Kuasa atas hamba-Nya. Mungkin bagi mereka yang berkata seperti itu tidak bisa, tapi kalau Allah SWT bilang bisa, mau apa?”
Suasana kamar mendadak sunyi. Kata-kata Abang Rahman itu seperti aliran air dingin yang menyejukkan hati kami yang panas oleh cemoohan dan hinaan. Mama dan bapak saling berpandangan, mata mereka berkaca-kaca. Saya pun tidak kuasa menahan haru. Bukan karena sakit hati atas hinaan yang disebutkan, tetapi karena kepercayaan besar yang Abang Rahman tanamkan pada kami. Kepercayaan bahwa Allah Maha Kuasa dan segalanya mungkin jika kita terus berusaha. “Kun fayakun”

Di saat banyak orang meragukan kami, di saat keluarga sendiri menjadi penghalang impian, Abang Rahman berdiri tegak. Dia tidak hanya membela kami, tetapi juga menunjukkan jalan keluar dari rasa putus asa. Dia menanamkan keyakinan bahwa hidup bukan soal komentar orang, tetapi soal bagaimana kita memandang perjuangan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT pencipta langit dan bumi beserta isinya dan tekad yang kuat.

BACA JUGA:  Penutup Penuh Makna: Seminar Hasil KKN Literasi di Lembang Pata'padang

Kata-kata Abang Rahman menjadi pondasi semangat saya untuk terus melangkah. Sekali lagi, Dia membuktikan bahwa _“Pemimpin sejati bukan hanya mereka yang berbicara lantang, tetapi mereka yang mampu membangkitkan jiwa yang hampir runtuh.”_ Mama dan bapak memeluk saya setelahnya. Mereka menangis penuh haru karena ada seorang anak kampung (Abang Rahman) menjadi jembatan mencapai cita-cita. Percakapan sederhana di kamar kecil itu mengubah segalanya. Hingga kini, ketika saya menghadapi tantangan, kata-kata Abang Rahman selalu terngiang di telinga saya : _“Kalau mereka bilang tidak bisa, tapi Allah SWT bilang bisa, mau apa?”_

Kemudian Abang Rahman berpesan kepada kedua orang tua saya sebelum dia berangkat ke Makassar. _”Saya tunggu Abdul Kadir di sana. Ingat! Setelah dengar kelulusannya, langsung menyusul ke Makassar. Di sana baru dilihat apakah bisa kuliah atau tidak, pokoknya ke Makassar dulu. Kalau bapak dan ibu memberi kepercayaan itu pada saya, saya akan perjuangkan,”_ kata Abang Rahman.

Pesan itu terus terngiang di kepala saya. Ketika saya lulus di MAN Fakfak, orang tua saya memutuskan untuk menjual kayu agar bisa membeli tiket kapal ke Makassar. Saya sadar ini adalah perjuangan bukan hanya untuk diri saya, tapi juga untuk harapan orang tua dan kepercayaan yang diberikan Rahman. Pesan itu membekas di hati kedua orang tua saya, yang hanya bisa mengangguk. “Baik, Tata,” (“Tata” panggilan dari orang tua saya ke Abang Rahman) “Tata” kami bawa Abdul Kadir pulang ke kampung sedikit dulu. kata orang tua saya penuh harap pada Abang Rahman.

BACA JUGA:  Ketika Wasit Khilaf

Namun, Abang Rahman kembali mengingatkan, _”Jangan terlalu lama di kampung. Godaan di kampung lebih kuat daripada godaan syetan. Banyak yang bisa membuat kita mundur, termasuk pikiran bahwa bapak ibu tidak bisa menyekolahkan anak-anak tinggi-tinggi.”_ Pesan itu terus terngiang dalam pikiran saya dan kedua orang tua saya. Setelah dinyatakan lulus, Saya pulang ke kampung hanya dengan beberapa lembar pakaian dalam dos kecil. Saya ingat pesan Abang Rahman, bahwa di kampung tidak boleh lama, karena ada janji besar yang harus saya wujudkan di Makassar. _”Saya tunggu di Makassar,”_ kalimat Abang Rahman bagaikan alarm selama saya di kampung.